Sejumlah tokoh lintas agama berencana berkeliling ke sejumlah negara di benua Eropa dan Amerika Serikat, untuk memperkenalkan nilai-nilai toleransi antarumat beragama.

Sebagai negara yang multi etnis dan multi agama, Indonesia dipandang dapat menjadi contoh bagi negara lain dalam mewujudkan nilai-nilai kerukunan antar umat beragama.

“Rombongan itu sendiri akan bicara tentang bagaiman kerukunan agaman, bagaimana Islam moderat Indonesia sangat berperan, bagaimana nasionalisme Indonesia itu satu tiang pancangnya adalah umat beragama yang toleran dan inklusif,” kata pendiri Institut Leimena, Jakob Tobing, usai bertemu Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Wapres, Jumat (17/3/2017).

Selain dia, sejumlah tokoh lintas agama yang akan ikut serta di antaranya Alwi Shihab, Azyumardi Azra, Amin Abdullah dan Maarif Syafii. Ada pun negara-negara yang akan dikunjungi seperti Jerman, Inggris, Belanda, Perancis dan Amerika Serikat.

Menurut dia, selama ini persoalan agama sering kali dipandang secara apriori, seperti yang terjadi di Timur Tengah. Sementara, Indonesia yang merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, dapat hidup rukun berdampingan dengan warga yang beragama lain.

“Walau pun ada gejolak sana-sini sedikit begitu ya seperti yang di Jakarta, jika dibandingkan dengan 250 juta rakyat Indonesia tidak banyak kan. Tapi, kita ingin perlihatkan karena kadang ini kan luput dan kita katanya terlalu baik jadi tidak kelihatan,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, lanjut dia, tak hanya tokoh kristiani yang akan memperkenalkan nilai-nilai Islam moderat, tetapi juga sebaliknya.

Kegiatan yang akan dilangsungkan pada 28 Maret hingga 11 Mei itu diharapkan dapat menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia merupakan negara multi etnis yang dapat hidup rukun.

Sementara itu, tokoh muslim, Amin Abdullah menuturkan, kerukunan antar umat beragama di Indonesia tak lagi sebatas pada tataran dialog dan teori, melainkan sudah pada tahapan praktek. Sejarah menunjukkan nilai-nilai kebhinekaan yang terbangun selama ini pun tertata dengan baik.

“Wapres juga menekankan bagaimana hari libur semua agama (di Indonesia) ada. Mana ada itu di negara lain seperti itu, dan itu kan luar biasa yang sudah mendarah daging,” kata Amin.

Selama ini, ia menambahkan, Timur Tengah selalu menjadi kiblat bagi negara-negara barat dalam menilai islam. Padahal, Indonesia dapat menjadi contoh yang lebih baik dibandingkan Timur Tengah dalam mewujudkan nilai-nilai kerukunan antar umat beragama.

Selain berkeliling, ia mengatakan, Indonesia juga akan mengundang tokoh dari negara lain untuk hadir pada kegiatan pre-summit meeting yang akan digelar tahun depan.

Kegiatan yang akan fokus pada interfaith dan intercultural dialogue itu rencananya akan dilangsungkan di Yogyakarta dan bekerja sama dengan Keraton Kesultanan Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here