Pertemuan Pra-Perpasgelar III

  1. Alur Persiapan Perpasgelar III

Dalam mempersiapkan Perpasgelar III Keuskupan Tanjung Karang ini, pihak Keuskupan sepakat untuk membentuk Panitia Persiapan Perpasgelar III yang terdiri dari 5 orang.RD. Sujanto dan RP. Thomas Suratno SCJ didapuksebagai Steering Commitee. Panitia ini berkumpul dan merumuskan metode, alur dan jadwal pertemuan persiapan hingga Perpasgelar III dilaksanakan pada tanggal 3 sd 7 Juli 2017.

Berikut ini adalah rancangan alur jarak dekat yang telah dan akan kita lalui bersama:

 

Tanggal Target Langkah dan Tujuan Pelaksana
7 Desember 2016 Pertemuan Awal SC-OC dan Bapa Uskup Target:

(1)    Pembentukan Panitia

(2)   Job-Desc Panitia

(3)   Proses Persiapan dan Metode

(4)   Persiapan bahan survei dari umat

SC
6 Januari 2017 Pertemuan SC dan Komisi Pengembangan Iman – Persiapan Bahan Target:

(1)    Pengumpulan bahan historiografi dan sharing pastoral para Romo

(2)   Perumusan bahan dan alur pertemuan

(3)   Pembagian tugas penyusunan naskah

 

SC dan KomPI
6-7 Februari 2017 Pertemuan SC dan Komisi Pengembangan Iman – Pematangan Modul Pertemuan Umat Target:

(1)    Penyelesaian bahan survei dan sharing umat dalam Masa Prapaskah

(2)   Pengolahan data dari hasil pertemuan lingkungan/stasi

 

SC dan KomPI
8 Februari 2017 Sosialisasi Bahan Persiapan Perpasgelar III

Tahap 1

Sosialisasi Bahan Pertemuan Lingkungan di depan Bapa Uskup dan para Romo SC dan KomPI
9-28 Februari 2017 Sosialisasi Bahan Persiapan Perpasgelar III

Tahap 2

Sosialisasi pada para pendamping di Lingkungan/Stasi Romo Paroki bersangkutan
1-25 Maret 2017 (s.d. Akhir Pekan III Prapaskah) Pertemuan Umat dan Pembahasan Bahan Persiapan Perpasgelar di tingkat Lingkungan/Stasi Sesuai Modul Para pendamping pertemuan dan notulis
Perangkuman Sharing Umat di tingkat Lingkungan/Stasi Pemandu dibantu pencatat hasil sharing Minggu 1 sampai Minggu 3 merumuskan klasifikasi hasil sharing di tabel 2 Para pendamping pertemuan dan notulis
Kalau dipandang perlu,

Perangkuman Sharing Umat di tingkat Wilayah (koordinasi beberapa stasi/lingkungan berdekatan)

Pemandu dibantu pencatat hasil sharing Minggu 1 sampai Minggu 3 merumuskanklasifikasi hasil sharing di tabel 2 Para pendamping pertemuan dan notulis
Batas akhir: 21 April 2017 Presentasi dan Diskusi Bersama di Tingkat Paroki/Unit Pastoral Target:

(1)    Para romo Paroki/UP menghubungi SC (Rm. Sujanto/Rm. Suratno) untuk memastikan tanggal pertemuan dan mengundang perwakilan SC untuk mendengar dan membantu tim lokal merumuskan rangkuman di tingkat Paroki.

(2)   mempresentasikan hasil sharing umat di Lingkungan/Stasi/Wilayah dari Minggu 1-3

(3)   mendalami bahan pertemuan Minggu 4

(4)   tim perumus Paroki (yang akan menjadi utusan dalam Perpasgelar) dibantu anggota SC menyimpan semua hasil tertulis selama proses pertemuan umat dan merangkumkan hasilnya dalam kolom-kolom yang disiapkan SC

Depas, Panitia Paroki dan Utusan SC
Batas Akhir: 23 April 2017 Hasil Refleksi Tertulis Tiap Paroki/UP dikirimkan pada Panitia Keuskupan (SC – Rm. Sujanto dan Rm. Suratno SCJ) Target:

(1)    Naskah lengkap Pertemuan setiap tingkat (lingkungan/stasi/wilayah/ paroki) didokumentasikan dalam bentuk hard-copydansoft-copy

(2)   Bila mungkin, dapat disertakan juga dengan foto/video pertemuan untuk dokumentasi Sekretariat SC.

Penanggung jawab: Romo Kepala Paroki dan UP
Jumat, 28 April 2017 (08.00 – Makansiang) Rapat Panitia Perpasgelar (SC-OC) di Wisma Albertus Target:

(1)    Klasifikasi isu strategis per wilayah pelayanan dalam Keuskupan

(2)   Klasifikasi isu strategis sesuai tabel 3

(3)   Menyusun Kertas Kerja untuk Bahan Pertemuan Perpasgelar

 

SC-OC
Rabu, 10 Mei 2017 Presentasi Rangkuman Bahan dan Proses Pengolahan Perpasgelar di depan Bapa Uskup Sosialisasi Kertas Kerja Perpasgelar III di depan Bapa Uskup dan para Romo dan mengundang refleksi lebih lanjut SC
Sabtu, 13 Mei 2017 Batas Waktu Penyerahan Bahan (Rangkuman) Perpasgelar III pada Rm. BS. Mardiatmadja SJ Sesuai hasil yang selama ini dikumpulkan SC
Rabu, 7 Juni 2017 Persiapan Akhir Perpasgelar III Target:

(1)    Bahasan tentang kesiapan teknis pelaksanaan di lapangan

(2)   Menyempurnakan jadwal acara

(3)   Menyempurnakan alur acara

SC-OC
3 – 7 Juli 2017 PERPASGELAR III RR La Verna – Padang Bulan SC-OC & Undangan
Rabu, 22 November 2017 Promulgasi Hasil Perpasgelar III Bapa Uskup dibantu SC

Tabel 1. Alur Waktu Persiapan Perpasgelar III

 

  1. Metode Appreciative Inquiry

Appreciative Inquiry (AI) adalah sebuah pendekatan baru yang dikembangkan oleh David Cooperrider untuk membantu individu atau komunitas meraih dan mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Karena itu, jika kita bermimpi untuk mewujudkan Gereja Keuskupan Tanjung Karang yang semakin beriman tangguh dan mendalam yang dimulai dari pembangunan keluarga-keluarga Katolik, maka Appreciative Inquiry dapat menjadi salah satu instrumen utama untuk itu.

 

  • Apa itu metode Appreciative Inquiry (AI)?

Pendekatan AI berpijak pada asumsi bahwa selalu terdapat berbagai bakat, keahlian, cerita sukses, dan sumber daya di dalam masyarakat yang dapat ditemukan dan dikembangkan oleh masyarakat itu sendiri. Pendekatan ini memandang manusia dan komunitas sebagai sebuah kapasitas kekuatan yang dapat mewujudkan banyak hal.  Bahkan dapat mewujudkan hal-hal yang selama ini dianggap sebagai sesuatu yang mustahil, atau hal-hal yang selama ini dianggap hanya sebuah mimpi. Jadi, menurut pendekatan ini, komunitas sesungguhnya memiliki kapasitas untuk menciptakan jemaat yang lebih baik lagi.

 

Pendekatan kita selama dalam menangani sesuatu yang kita anggap sebagai sebuah masalah adalah melalui pendekatan hadap-masalah (problem posingapproach) atau pendekatan pemecahan masalah (problem solving approach). Pendekatan ini dimulai dengan mengidentifikasi masalah, mencari akar masalahnya, dan berupaya menemukan solusi-solusi untuk menangani akar masalahnya.Efek psikologis yang ditimbulkan dari pendekatan ini adalah kita akan merasa bahwa ternyata masalahnya banyak sekali dan untuk memecahkannya akan sulit sekali. Di tingkat gereja lokal akan muncul sebuah perspektif ketergantungan bahwa hanya pihak berkuasa-lah (baca: hirarki) yang akan dapat memecahkan masalah mereka.

 

Lalu, bagaimana dengan pendekatan Appreciative Inquiry?

 

Pendekatan ini berfokus pada pencarian kekuatan dan inti positif dari komunitas untuk membangun visi yang harus diraih bersama. Aktivitas diawali dengan mengapresiasi apa yang terbaik dalam komunitas, penciptaan impian komunitas, perancangan tindakan, dan melakukan tindakan yang berbasis pada inti positif.Model perencanaan yang dianjurkan dan tahap-tahap yang harus dilakukan, disajikan di bawah ini dengan prinsip 4D:  Discovery, Dream, Design, Destiny.

 

 

Efek dari metode AI adalah jemaat yang percaya diri, antusias dan bersemangat positif untuk selalu mewujudkan impian bersama. Berbagai pengalaman dalam penerapan AI ini menemukan bahwa penerapannya melahirkan sebuah semangat positif untuk melakukan langkah-langkah kecil yang bermakna dalam mewujudkan kondisi masa depan yang diidamkan.

 

  • Discovery

Discoverydilakukan sebagai upaya mengapresiasi pengalaman-pengalaman positif yang sudah terjadi, apa saja yang telah menghidupkan dan menggerakkan Gereja kita selama ini, serta yang sudah terjadi dan pantas dilanjutkan di masa depan. Apresiasi terhadap semua jenis hasil kerja dan perwujudan karya masa lalu dipakai sebagai landasan untuk membangun masa depan secara kolektif dengan optimis.Dalam konteks persiapan Perpasgelar III, pendekatan AI akan diawali dengan berkumpulnya komunitas lokal (stasi/lingkungan/wilayah) dan mengidentifikasi prestasi-prestasi komunitas di masa lalu; juga mengidentifikasi potensi dan sumber daya yang dimiliki oleh komunitas sepanjang tonggak sejarah Keuskupan kita. Tahapan ini akan membangun energi positif di tingkat stasi/lingkungan/wilayah bahwa mereka sesungguhnya memiliki banyak potensi,  yang jika terus digalang maka potensi-potensi itu akan dapat digunakan untuk meraih apa yang menjadi impian bersama mereka.Tabel2adalah tabel yang bisa digunakan dalam mengklasifikasi hasil sharing umat dalam pertemuan 1-3.

 

  • Dream

Dream adalah upaya menyepakati harapan dan cita-cita keadaan Gereja yang ingin diwujudkan, apa yang mungkin dapat diwujudkan di masa depan, bagaimana mewujudkannya hingga tingkat operasional, juga kaidah-kaidah yang tak boleh dilanggar.Tahap berikutnya adalah merumuskan dan menyepakati apa yang menjadi impian bersama dari komunitas lokal dalam tingkat paroki setelah mendalami tiga kali pertemuan pertama dalam modul yang telah disiapkan. Dalam hal ini tentu saja impian bersama untuk mewujudkan komunitas gerejani yang makin maju dalam lima pilarnya. Jika impian itu yang disepakati, maka fasilitasi dilanjutkan untuk mengidentifikasi gagasan-gagasan komunitas tentang cara untuk mencapainya.

 

Inilah yang akan terjadi dalam pertemuan keempat di Paroki dan yang masih akan dilanjutkan dalam tingkat keuskupan selama Perpasgelar berlangsung. Tabel 3 adalah tabel yang bisa digunakan dalam mengidentifikasi mimpi dan harapan akan masa depan.

 

  • Design

Design adalah langkah untuk menyepakati berbagai tingkatan hasil perubahan yang diharapkan untuk diwujudkan sesuai ekspektasi semua umat dengan mengandalkan kekuatan dan komitmen seluruh umat, baik jangka menengah (5 tahun) maupun jangka pendek, disertai penanda hasil (milestones) yang disepakati agar bisa diketahui kemajuannya.  Secara konkret, hal ini akan dirumuskan bersama di tingkat Keuskupan selama Perpasgelar III.

 

  • Destiny

Destiny biasanya dirumuskan dalam format Rencana Kerja agar bentuk pelaksanaannya di lapangan menjadi mudah dimengerti semua anggota jemaat. Rumusan Rencana Kerja dimulai dengan rumusan Outputsyang diambil dari proses sebelumnya. Pencapaian Outputsmerupakan hasil kolektif dalam kerja sama dengan semua jemaat yang dedikatif. Secara konkret hal ini masih akan didalami setelah hasil-hasil pemikiran dalam Perpasgelar III dipromulgasikan oleh Bapa Uskup dan menjadi bahan untuk merumuskan Visi dan Misi Keuskupan.

 

  1. Seputar Persiapan Perpasgelar III di Tingkat Lingkungan dan Paroki

Persiapan Perpasgelar dalam Pertemuan Umat di tingkat Lingkungan dan Paroki dilakukan sepanjang masa Prapaskah hingga paling lambat Minggu Kedua Paskah (23 April 2017). Pertemuan ini bertujuan untuk (1) menggali pengalaman iman yang selama ini hidup di tengah jemaat sesuai kurun waktu pertumbuhan komunitas gerejawi dan (2) untuk bersama merumuskan impian bagi masa depan Gereja Keuskupan Tanjung Karang. Berikut ini akan dijelaskan mengenai cara memandu pertemuan dan bagaimana hasil pertemuan di tingkat lingkungan/wilayah dan paroki dapat diklasifikasikan sesuai kertas kerja dari panitia pengarah (SC).

 

 

 

  • Panduan Pertemuan 1-3
  1. Pertemuan 1-3 sesuai modul dilaksanakan oleh seluruh umat dengan bantuan setidaknya 1 pemandu dan 1 notulis (juru tulis/sekretaris).
  2. Pemandu bertugas untuk mengarahkan jalannya sharing umat sesuai dengan bahan dan pertanyaan yang dibuat dalam modul yang telah disiapkan.
  3. Pemandu wajib menyiapkan diri sebaik mungkin dengan membaca teliti bahan sejarah yang disiapkan dalam modul atau (bila ada) sejarah paroki setempat. Pemandu dapat dengan kreatif menyiapkan gambar atau foto yang berkaitan dengan tokoh-tokoh dan tempat bersejarah.
  4. Pemandu diharapkan dapat dengan luwes menyampaikan bahan sesuai kolom-kolom dalam lima pilar Gereja yang ada dalam modul. Dalam proses sharing, sangat mungkin terjadi bahwa:

– pemandu merasa diri juga ‘buta sejarah’

– tidak ada umat yang mengalami sejarah kegembalaan Mgr. Hermelink

– pertanyaan yang ada dirasakan kurang relevan dengan situasi jemaat yang dihadapi

– ada pertanyaan tertentu dalam lima pilar yang tidak dapat dijawab atau di-sharing-kan oleh umat

Menanggapi hal-hal ini, pemandu dapat juga meminta umat mengisahkan apa yang ‘didengar’ dari orang-orang tua (jadi, tidak melulu kisah ini harus dialami sendiri secara langsung) dan pemandu juga bebas mengarahkan pertanyaan pada bagian-bagian pilar Gereja yang dirasakan berkesan dan kuat pada zamannya (tidak harus semua kolom lima pilar Gereja dibahas dalam pertemuan 1-3)

  1. Sesuai dengan metode Appreciative Inquiry yang dijelaskan di atas, maka pemandu diharapkan dapat menggali pengalaman iman yang positif dan yang menambah semangat umat dalam hidup menggereja. Memang tidak tertutup kemungkinan bahwa akan muncul pengalaman negatif dan luka-luka selama hidup menggereja, namun diharapkan pemandu kembali menekankan hal dan pembelajaran positif yang didapatkan dari pengalaman pahit dan tidak enak. Hal ini dimaksudkan agar terjadi ‘transfer semangat beriman dan menggereja’ dalam sharing antar umat.
  2. Notulis (juru tulis/sekretaris) bertugas menulis semua percakapan dan sharing yang terjadi di dalam pertemuan lingkungan/stasi/wilayah dan memasukkan jawaban sharing umat dalam kolom-kolom sesuai panduan dalam lampiran.
  3. Notulis mendokumentasikan pertemuan dalam dokumen diketik komputer (Word) lengkap dengan foto/video (bila memungkinkan). Keterlibatan OMK sangat dianjurkan dalam tugas membuat notulen ini.

 

  • Bagaimana Notulis dan Pemandu Merangkum Hasil Pertemuan 1-3?
  1. Setelah notulis mencatat seluruh percakapan dan sharing umat selama pertemuan, ia bertemu kembali dengan pemandu untuk bersama merumuskan klasifikasi (pengelompokan) sesuai dengan kolom berikut:

 

Pilar Gereja yang direfleksikan 1.Pengalaman Bersama sebagai Umat yang Sangat Berkesan dan Kuat Memberi Dampak Baik 2.Kisah Pribadi yang Membantu Gereja Tumbuh dan Hidup 3.Hal-hal yang Diharapkan Tidak Lagi Terjadi dan Tidak Boleh Diulangi 4.Hal-Hal Strategis yang Dapat Kita Gunakan untuk Kemajuan Masa Depan Gereja?
Persektuan  

 

Pelayanan  

 

Liturgi  

 

Pewartaan  

 

Kesaksian  

 

Tabel 2. Discovery:  Identifikasi – Apresiasi pengalaman nyata

  1. Yang dimaksudkan dalam kolom (1) adalah: pengalaman kebersamaan sebagai jemaat atau hal-hal baik yang dilakukan secara bersama-sama sebagai satu jemaat – dan hal-hal baik ini memberi kesan dan kenangan yang kuat sampai hari ini.
  2. Yang dimaksudkan dalam kolom (2) adalah: pengalaman pribadianggota jemaat (bisa juga pengalaman iman yang menyentuh dengan gembala x atau katekis y dan suster z) yang membantu Gereja bertumbuh-hidup. Dalam kolom ini, Anda dapat menyebutkan nama-nama mereka yang mengisahkan atau dikisahkan.
  3. Yang dimaksudkan dalam kolom (3) adalah: pengalaman yang memberi kita pelajaran untuk tidak mengulangi kesalahan atau kekeliruan atau hal-hal yang kurang pas. Kolom ini bisa saja diisi sendiri sesuai kesimpulan dari notulis dan pemandu yang merumuskan masukan dari umat tentang masalah yang pada zaman tertentu atau pada masa kini sedang terjadi dalam jemaat dan cukup mengganggu.Rumusan ini merupakan kesepakatan kolektif tentang pembelajaran dari masa lalu yang dirumuskan secara positif.
  4. Yang dimaksudkan dalam kolom (4) adalah: isu-isu strategis dan pokok dalam hidup menggereja yang sudah terjadi dan dapat menjadi batu pijakan untuk mengolah hidup jemaat di masa mendatang. Anda dapat menyebutkan misalnya pada masa tertentu, hal-hal yang paling banyak muncul adalah soal kepemimpinan para gembala, atau soal keterlibatan gereja dalam masyarakat, atau juga soal kemandirian dalam tata kelola gereja dll.
  5. Rangkuman dalam klasifikasi ini dibuat dan dituliskan dalam kolom seperti dibuat di atas.
  6. Dari tingkat lingkungan/stasi/wilayah yang melaksanakan tiga pertemuan pertama, diharapkan pendamping dan notulis menyerahkan:
  • catatan sharing umat selama 3 kali pertemuan pertama
  • klasifikasi sharing sebagaimana dimaksudkan dalam tabel poin 4.2
  • foto atau video, bila ada

 

  • Panduan Pertemuan Persiapan Perpasgelar di Tingkat Paroki (Pertemuan IV)
  1. Persiapan Perpasgelar III di tingkat Paroki masuk dalam pertemuan keempat dalam modul.
  2. Pertemuan umat yang keempat ini adalah: sebuah pertemuan bersama di tingkat paroki yang dihadiri oleh utusan masing-masing lingkungan/stasi/wilayah dan dipandu oleh setidaknya: 2 orang pemandu dari team paroki, 2 orang notulis dan 1 orang utusan dari Panitia SC/OC Keuskupan.
  3. Yang dimaksud dengan team paroki adalah umat yang disiapkan oleh Depas untuk menjadi utusan dalam Perpasgelar bulan Juli 2017 di RR La Verna, Pringsewu. Team Paroki ini berada di bawah tanggung jawab Pastor Kepala Paroki.
  4. Notulis bertugas sesuai deskripsi poin 4.1 butir (f) dan (g) di atas.
  5. Yang dimaksud dengan utusan dari Panitia SC/OC Keuskupan adalah imam/suster/awam yang disiapkan khusus oleh pihak Steering Comittee untuk memandu dan merangkum jalannya pertemuan keempat ini.
  6. Bahan yang ada dalam pertemuan keempat akan disampaikan dalam tiga tahapan utama:
  • mendengarkan narasi dari klasifikasi yang telah dibuat di masing-masing lingkungan – stasi – wilayah
  • sesi pertanyaan informatif untuk mendalami narasi yang ada
  • sesi masukan dari tokoh umat dan para imam tentang impian bersama akan masa depan Keuskupan kita
  1. Setelah pertemuan keempat ini selesai, team paroki diharapkan bekerja bersama utusan Panitia SC/OC untuk mengklasifikasi narasi dalam pertemuan keempat ini dalam tabel berikut:

 

Pilar Gereja yang direfleksikan INTERNAL EXTERNAL  

HASIL

(Results)

 KEKUATAN

(Strengths)

ASPIRASI

(Aspirations)

KESEMPATAN

(Opportunities)

HARAPAN

(Expectations)

Persektuan  

 

Pelayanan  

 

Liturgi  

 

Pewartaan  

 

Kesaksian  

 

Tabel 3DiscoveryandDream dengan Proses SAOER: Strengths, Aspirations, Opportunities, Expectations, Results.

  1. Analisis dalam tabel ini merupakan modifikasi Analisis SAOER yang ditawarkan oleh Cooperideretall. (2008, hal.405).[1] Yayasan SATUNAMA telah mengembangkan alat modifikasi bernama SAOER dan menghasilkan temuan proses pencarian (inquiry) yang lebih unik dan lebih kaya. Format SAOER menyempurnakan SWOT dengan mengganti orientasi pemikiran: semua yang negatif diganti dengan apresiasi dan pola pikir positif sehingga eksplorasi yang dilakukan lebih luas.
  2. Berikut ini langkah yang dimaksudkan dalam Tabel 2:
  3. Analisis dimulai dengan melihat-mendata kembali hasil sharing lingkungan – stasi dan paroki sesuai dengan kolom padalima pilar Gereja
  4. Lakukan identifikasi kekuatan internal dari tiap elemen pilar Gereja.
  5. Lakukan identifikasi aspirasi, keinginan, dan pendapat dari jemaat yang ada saat ini
  6. Lakukan identifikasi berbagai kesempatan yang tersedia di luarjemaat Gereja
  7. Lakukan identifikasi ekspektasi, harapan, dan keinginan partner di luar jemaat Gereja
  8. Lakukan penggabungan semua pendapat tersebut dan sepakati hasil perubahan (Results) yang diharapkan terjadi di masa depan.

 

 

  1. Beberapa Bahan Penunjang yang Pokok

Berikut ini kami susun beberapa bahan penunjang pokok yang dapat Anda baca dan dalami sebagai bantuan dalam memandu pertemuan lingkungan dan paroki.

 

  • Arah Dasar Keuskupan Tanjung Karang SaatIni(meneruskan yang lama – VisiDasar Pastoral)

 

ARAH GEREJA / Keuskupan Tanjungkarang (Lama)

Pembangunan dan pengembangan umat Katolik di Lampung diarahkan kepada perwujudan Gereja sesuai dengan Gambaran Gereja yang diberikan dalam Dokumen Konsili Vatikan II dan dokumen-dokumen selanjutnya. Gereja adalah Umat Allah (LG 9), bermusafir di dunia (LG 6) dan menjadi hamba melayani Kristus dalam saudara-saudaranya (LG 8) *2).

Gereja bertekad bulat berusaha, agar benar-benar merasa diri bersatu dengan umat manusia dan sejarahnya. Sehingga kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan mereka pada dewasa ini, menjadi kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan murid-murid Kristus (GS 1), termasuk para biarawan-biarawati. Usaha, karya dan hidup Gereja harus ditujukan kepada perwujudan dirinya sebagai Sakramen Cintakasih Kristus, Sakramen Keselamatan*3).

Maka umat diajak berdoa : “Dia (Yesus) bertujuan menjadikan kami sinar wajahMu (Allah Bapa) dan gema panggilan hatiMU. Jadilah garam dan cahaya dunia …. PuteraMu menugaskan kami berusaha menjadikan GerejaMu tanda nyata dan subur, yang menawarkan kebahagiaan bagi umat manusia seluruhnya” *4).

Jadi, tugas yang mendesak ialah menggali dan menemukan arah dan langkah-langkah yang tepat-konkrit bagi Hidup Menjemaat di Lampung ini, sehingga Gereja di Lampung dapat menjadi “Sakramen Keselamatan Kristus” bagi masyarakat di “Sang Bumi RuwaJurai” ini. Untuk itu dituntut agar mutu hidup kristiani masing-masing orang Katolik, umat itu sendiri dan para pastor ditingkatkan secara efektif *5).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Refleksi Teologis tentang 5 Pilar Gereja

Kisah para rasul 2:41-47:

“Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul (Kerygma) dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti  dan berdoa (Liturgia). Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu(Koinonia), dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya (diakonia)kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang (Martyria). Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan”.

 

Lima pilar pelayanan Gerejani yang dimaksudkan seperti yang terungkap dalam Kis 2,41-47 ialah Kerygma, Diakonia, Koinonia, Leitourgia dan Martyria (Bdk. LG art. 25-27). Lima pilar pelayanan Gereja merupakan fondasi kokoh yang menyingkapkan tugas dan tanggungjawab serta eksistensi pelayanan Gereja di dunia (Bdk. GS art 1, 43). Gereja sebagai umat Allah berkat sakramen pembaptisan menyadari diri memiliki tanggungjawab menunaikan tugas dan panggilan dalam lima pilar pelayanan Gereja di dunia tersebut (Bdk. LG art 31). Sebab, lima pilar pelayanan Gereja tersebut merupakan implementasi dari Tri tugas Yesus Kristus sendiri. [Konferensi Wali Gereja Indonesia. Buku Iman Katolik  – Buku Informasi Dan Referensi,  (Yogyakarta: Kanisius, 1996), hlm. 382.]

 

  1. Kerygma (Pewartaan)

 

“Kerygma” berasal dari bahasa Yunani yang berarti karya pewartaan  Kabar Gembira. Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru ditemukan dua kata kerja Yunani yang berhubungan dengan kerygma atau pewartaan ini yakni  “kerussein” (Ibr 5:12) dan “didaskein” (Ibr 6:1). Kata kerja “kerussein”  menunjuk pada aktivitas pewartaan yang ditujukan kepada orang yang belum mengenal atau belum percaya kepada Yesus Kristus. Sedangkan kata kerja “didaskein” berarti mengajar atau memberikan pelajaran kepada orang yang telah beriman dalam rangka memperkembangkan dan memekarkan iman yang sudah mulai tumbuh.

Dengan demikian “didaskein” merupakan aktivitas pewartaan yang bersifat lanjutan dan diberikan kepada orang yang telah mengenal dan percaya kepada Yesus Kristus, agar iman umat semakin berkembang ke arah kedewasaan. [LadislaoCsonka. Menyusuri Sejarah Pewartaan Gereja, (Judul asli: Storia Della Catechesi), diterjemahkan oleh P. F.X. Adisusanto, SJ, (Jakarta: Komisi Kateketik KWI, 2010), hlm. 5-6.] Dan memang sesungguhnya arti asli dari kata kerygma adalah bahwa karya pewartaan itu berkaitan erat dengan mulut atau kata dalam menyampaikan Sabda Tuhan kepada telinga atau pendengaran yang menggerakkan hati manusia untuk berbuat ke  arah pertobatan. Melalui tindakan itu  kita diingatkan oleh  pengajaran Santo Paulus bahwa iman itu tumbuh lewat pendengaran. Keselamatan itu diperoleh berkat iman kepada Yesus Kristus (bdk. 1 Tim 2:4).  Dalam hubungan dengan proses penelitian ini maka pemahaman didaskein-lah yang paling tepat untuk ditindaklanjuti.

Landasan kokoh tentang tindakan pewartaan ini adalah Tuhan Yesus sendiri. Metodologi yang digunakan Yesus dalam melaksanakan tugas pewartaan tersebut adalah dengan membangun jejaring dan kepercayaan. Untuk itu, Yesus memanggil para Rasul dengan melibatkan mereka dalam melaksanakan tugas pewartaan. Demikian juga umat beriman Kristiani di mana semua diberi kepercayaan, dipanggil dan diutus Tuhan Yesus untuk mengambil bagian dalam tugas pewartaan Kabar Gembira (bdk. LG art 35).

 

Penekanan utama dalam tugas pewartaan  Gereja ini bukan saja pewartaan verbal tetapi juga pewartaan melalui kesaksian hidup sebagai bentuk pewartaan yang ampuh  dan sebagai daya dorong untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang nyata. [Felipe Gomez, SJ., The GoodShepherd, Cardinal Bea Institute, (AteneoDe Manila University, Quezon City, Philippines: 1997), hlm. 102-104.]

Partisipasi tersebut dapat dilakukan dengan mengambil bagian melalui tugas-tugas pelayanan Gerejani dalam kehidupan bersama umat. Pewartaan merupakan suatu ajakan untuk menyerahkan diri dalam iman kepada Yesus Kristus dan melalui pembaptisan masuk ke dalam persekutuan kaum beriman yang adalah Gereja. Untuk mencapai semua ini dibutuhkan kualitas-kualitas antara lain adalah: pewartaan yang meyakinkan, karena tugas mewartakan itu bukan berhubungan dengan perkataan manusia  melainkan kesaksian tentang Firman Allah dan kehadiran Roh yang berkesinambungan di semua tempat dan dalam segala waktu. Kemudian pewartaan yang setia kepada amanat yang disampaikan Gereja yakni “yang secara mendalam bersifat Gerejawi”. Pewartaan itu mesti rendah hati yakni bahwa orang-orang yang mewartakan hanyalah “sarana” yang sempurna di dalam tangan Allah. Lalu pewartaan itu haruslah  penuh hormat dan dialogal yakni dengan kesadaran bahwa Allah sudah lebih dahulu berkarya sebelum kedatangan para misionaris (pewarta).

 

  1. Diakonia (Pelayanan)

Diakonia berarti pelayanan. Terminologi diakonia ini berasal dari kata bahasa Yunani yakni dari kata kerja “diakon” yang berarti melayani. Yesus memilih kata yang tepat untuk menggambarkan eksistensi terdalam dari kehadiranNya di dunia ini yakni bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani (bdk. Mat 20:28). Dari sebab itu, Santo Paulus menganggap pekerjaannya sebagai suatu “diakonia” artinya pelayanan dan dirinya sebagai “diakonos” artinya pelayan bagi Kristus (bdk. 2 Kor 11:23) serta bagi umat Kristus (bdk. Kol 1:25). [ Andar Ismail. Selamat Melayani Tuhan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), hlm. 3.]

Dari pemahaman di atas dapatlah kita mengerti mengapa Tuhan Yesus menegaskan bahwa hakekat dari pekerjaan melayani harus melekat dalam diri mereka yang dikhususkan sebagai pemimpin. Para rasul termasuk orang-orang yang dipilih dan dikhususkan Yesus untuk menjadi pemimpin umat. Spiritualitas  dasar pemimpin umat menurut  Yesus harus dicirikan dengan melayani bukan berkuasa dan memerintah. Para rasul adalah pemimpin umat yang sekaligus “diakonos” atau pelayan (bdk. Luk 22:25-27). Dengan kata lain para rasul adalah pemimpin yang melayani umat Allah. Tugas pelayanan para rasul dilanjutkan dalam pelayanan Gereja sebagai salah satu pilar eksistensinya.

 

Tugas pelayanan yang dilakukan oleh Gereja ini dilaksanakan dengan suka rela tanpa menuntut. Tujuannya ialah agar Gereja tumbuh dan berkembang ke arah yang semakin membebaskan dan menyelamatkan umat manusia. Santo Paulus dengan tepat mengungkapkan landasan pelayanan Gereja pada pola kehidupan dan pelayanan Yesus sendiri. Yesus dalam rupa Allah telah mengosongkan diriNya dan mengambil rupa seorang diakonos atau doulos (hamba) (bdk. Filipi 2:5-7). Oleh karena itu Gereja menggalakkan aktivitas pelayanan karena didorong oleh panggilan untuk mencintai Tuhan dan sesama. Dasarnya adalah karena Yesus sendiri sudah lebih dahulu melayani kita. Dia adalah sang diakonos (pelayan) dan bahkan doulos (hamba). Dengan demikian Gereja terpanggil untuk melayani dan bukan untuk berkuasa. Panggilan Gereja untuk mewujudnyatakan diakonia sebagai suatu panggilan relasional agar saling menolong dalam kesetikawanan. Suatu panggilan untuk memperjuangkan prinsip hidup memberi dan bukan mengambil demi kepentingan, kepuasan dan kekenyangan pribadi.

 

Dalam perkembangan dan eksistensi Gereja dewasa ini, maka panggilan untuk melaksanakan diakonia bukan hanya menjadi tugas para pemimpin saja, melainkan juga dikembangkan di antara anggota Gereja Perdana. (bdk. Kis 2:44-45; 4:32-37).  Dewasa ini panggilan dan semangat untuk melaksanakan diakonia kemudian menjadi panggilan bagi semua umat beriman. Karena praksis diakonia diarahkan demi pengabdian kepada kepentingan umat Allah. Maka secara tidak langsung seluruh umat harus ikut mengambil bagian di dalam praksis diakonia ini.

 

  1. Koinonia (Persekutuan/Paguyuban)

 

Koinonia adalah bahasa Yunani, berasal dari kata “koin” yang berarti mengambil bagian. Dalam perspektif biblis, koinonia diartikan sebagai persekutuan atau paguyuban (bdk. Kis. 2:41-42).  Koinonia dapat diidentikan dengan sebuah paguyuban dalam melaksanakan sabda Tuhan. Suasana hidup dalam persekutuan tersebut ialah persekutuan hidup yang guyub dalam arti hidup rukun dan damai. Dan suasana hidup seperti itulah yang digambarkan oleh Tuhan Yesus dengan bersabda: “Saudara-saudaraKu ialah mereka yang mendengarkan Firman Allah dan melaksanakannya” (Luk 8:21).  Oleh karena itu dokumen Konsili Vatikan II pertama-tama menggambarkan Gereja bukan sebagai suatu institusi duniawi melainkan sebagai suatu persekutuan ataupun paguyuban umat beriman yang menerima dan meneruskan cahaya Kristus yang diwujudkan dalam warna dasar perbuatan atau amal yang baik dan berguna bagi sesama.

 

Koinonia memiliki konotasi sebagai milik bersama atau bersolidaritas. Dalam terang Sabda Tuhan syarat untuk membangun paguyuban Kristiani adalah orang-orang yang suka mendengarkan Sabda Allah dan berusaha melaksanakannya. Pelaksanaan Sabda Allah dapat berupa aktivitas pewartaan,  liturgi, pelayanan, kesaksian dan berjuang untuk hidup dalam semangat guyub-rukun dan aktif dalam melakukan solidaritas.

 

  1. Leitourgia (Liturgi)

 

Liturgi berasal dari kata bahasa Yunani yakni dari kata kerja “Leitourgian” (leos artinya rakyat dan ergon artinya kerja) yang berarti bekerja untuk kepentingan umum, kerja bakti atau gotong royong. Orang yang melakukan pekerjaan  itu disebut “Leitourgos”. Dan pekerjaan luhur itu disebut  “Leitourgia”. Dari pemahaman ini sekarang kita menggunakan kata “Liturgi” untuk Ekaristi dan ibadah. Dalam konteks pilar pelayanan Gereja  liturgi merupakan upaya yang sangat membantu kaum beriman untuk penghayatan iman demi mengungkapkan misteri Kristus serta hakikat asli pelayanan Gereja yang sejati. Dengan demikian maka Liturgi itu sungguh mengagumkan, menguatkan tenaga umat beriman untuk mewartakan Kristus dan dengan sendirinya terpanggil mewartakannya juga kepada mereka yang berada di luar Gereja. Di pihak lain liturgi mendorong umat beriman supaya sesudah dipuaskan dengan sakramen-sakramen Paskah menjadi sehati dan sejiwa dalam kasih. Jadi Liturgi terutama Ekaristi, bagaikan sumber yang mengalirkan rahmat kepada umat beriman dan menjadi puncak kehidupan Gereja dalam seluruh aktivitas umat menuju kehidupan yang sejati.

 

Dari pemahaman di atas maka sudah sepantasnya semua umat beriman Kristiani terdorong untuk berpartisipasi mengambil bagian dalam pelayanan liturgi Gereja demi  rahmat dan berkat untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang. Konsili suci menasihati agar umat beriman tidak saja berpartisipasi, tetapi lebih dari itu menghadiri liturgi suci dengan sikap-sikap batin yang serasi. Hendaknya hati disesuaikan dengan apa yang mereka ucapkan dan bekerja sama dengan rahmat surgawi agar tidak sia-sia menerimanya. Keikutsertaan sepenuhnya harus berawal dari kesadaran mendalam dan keaktifan yang sadar dalam perayaan-perayaan liturgi yang dirayakan tersebut. Untuk itu dibutuhkan bimbingan dan arahan dari petugas pastoral (pemimpin paroki) sehingga dalam kegiatan liturgi tersebut tidak hanya dipatuhi hukum-hukum untuk merayakannya secara sah dan halal, melainkan supaya umat beriman berpartisipasi merayakannya dengan kesadaran yang optimal, keaktifan yang gembira dan penuh makna bagi kehidupan jiwa dan raga.

 

 

5.Martyria (Kesaksian) 

 

Martyria berasal dari kata bahasa Yunani yakni “marturion” yang artinya kesaksian. Saksi sering diartikan sebagai orang yang melihat atau mengetahui suatu kejadian. Makna saksi merujuk kepada pribadi seseorang yang mengetahui atau mengalami suatu peristiwa dan mampu memberikan keterangan yang benar. Yesus adalah saksi yang memberikan “berita” tentang rencana Allah Bapa untuk menyelamatkan manusia. Dia-lah saksi yang setia dan benar (Why 3:14). Maka di depan Pilatus, Yesus mengakui bahwa Dia-lah Raja, namun kerajaan-Nya bukan dari dunia ini. Dia lahir dan datang ke dalam dunia, untuk memberikan kesaksian tentang apa yang dilihat dan didengarNya di hadirat BapaNya (Yoh 3:32).  Para Rasul dipanggil Yesus untuk menjadi saksiNya mulai dari Yerusalem, Yudea dan Samaria bahkan sampai ke ujung bumi (Kis 1:8). Tetapi menjadi saksi Kristus bukan tanpa resiko. Bahkan Yesus sendiri telah menjadi martir atau saksi hidup karena melaksanakan kehendak Allah Bapa untuk membebaskan dan menebus umat manusia.

 

Dalam perkembangan sejarah Gereja Katolik kita menemukan  banyak orang telah merelakan hidupnya untuk mati sebagai martir demi mempertahankan imannya akan ajaran dan kesaksian hidup Yesus Kristus karena teladan hidup Yesus itu sendiri. Para martir bersaksi dengan caranya masing-masing untuk menyuburkan kehidupan Gereja hingga sekarang. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa Gereja dipanggil untuk memberikan kesaksian kepada seluruh dunia, mewartakan Injil kepada semua orang. Dan situasi zaman sekarang lebih mendesak Gereja untuk memberikan kesaksian secara profesional melalui kehadiran dalam fungsi sebagai garam dan terang dunia agar memanggil dan membaharui semua orang masuk ke dalam satu keluarga umat Allah.  Gereja hadir bagi semua orang dan bangsa lengkap dengan tantangan realitanya maka melalui teladan hidup (kesaksian hidup), maupun pewartaannya, dan dengan sakramen-sakramen serta daya-daya rahmat surgawi,  Tuhan menghantarkan semua orang dan bangsa kepada iman, kebebasan dan damai Kristus (Bdk. LG art. 1). Oleh karena itu kesaksian Gereja atau umat Allah hendaknya berbuah dan berhasil ketika mereka menggabungkan diri sebagai anggota masyarakat di lingkungannya dengan sikap penghargaan dan cinta kasih, ikut serta dalam kehidupan budaya dan sosial melalui pelbagai kegiatan (AG art 1).

 

Point kesaksian yang hendak dibidik  adalah agar anggota masyarakat  dihantar kepada kerinduan akan kebenaran dan cinta kasih yang diwahyukan oleh Allah. Hendaknya seperti Kristus yang berkeliling sambil berbuat baik (bdk. Mat 9:35) demikian juga Gereja membangun relasi dengan semua orang, khususnya dengan mereka yang miskin dan tertimpa kemalangan dan dengan sukarela mengorbankan diri untuk mereka (bdk. 2 Kor 12:15). Hendaknya Gereja – umat beriman, juga memberikan kesaksian dengan membaktikan diri secara tepat dalam bidang-bidang kemasyarakatan dan secara istimewa bagi pendidikan anak-anak dan kaum muda untuk memerangi kebodohan dan menciptakan kondisi hidup yang lebih baik.  Dalam semua itu, haruslah dicamkan bahwa Gereja tidak bermaksud mencampuri urusan pemerintahan tetapi memberikan kesaksian yang benar tentang Kristus dan berkarya demi keselamatan sesama manusia. Akhirnya cermatilah dengan hati bersih dan pikiran jernih serta belajar dari kesaksian hidup para martir bahwa pola kesaksian hidup kita dalam arus globalisasi dunia zaman ini selalu disertai dengan  salib yang harus dipikul. Tetapi siapa yang bertahan dia akan menang (bdk. Lukas 21:18-19). Kita semua, umat beriman Kristiani yang telah dibaptis  dipanggil menjadi saksi-saksi Kristus. Jadi ternyata menjadi saksi Tuhan bukan hanya milik hirarki.

 

  • Surat Pengantar Bapa Uskup Yohanes Harun Yuwono dalam Persiapan Perpasgelar III

 

PERPASGELAR IIIKEUSKUPAN TANJUNGKARANG

KELUARGA: TERANG DUNIA DAN GARAM MASYARAKAT

 

Perpasgelar atau Pertemuan Pastoral Gereja Partikular atau yang menurut hukum disebut Sinode Keuskupan adalah usaha bersama Uskup dan kaum beriman kristiani untuk merenungkan dan merefleksikan kembali perjalanan Gereja Partikular dan menemukan kehendak Tuhan bagi Umat-Nya untuk perjalanan ke depan selanjutnya (bdk. Kan 460, 463 $ 2).  Perpasgelar adalah permenungan dan pencarian bersama kehendak Allah bagi Umat-Nya. Kita berusaha dalam terang Roh Kudus, bersama dengan semua orang yang berkehendak baik, bergerak bersama dalam perjalanan menuju ke masa depan ideal yang lebih baik, lebih beriman, lebih manusiawi dan beradab. Kita berharap akan lahir Gereja yang lebih dinamis di mana seluruh Umat bersama dengan gembalanya berpartisipasi aktif menghadirkan Kerajaan Allah sebagai Sakramen Keselamatan. Semoga setiap orang menjadi bagian tak terpisahkan dari komunitas dan masyarakatnya, saling mengenal dengan baik, merasa senasib sepenanggungan, saling mendukung dan menguatkan agar setiap anggota mempunyai hidup dan mempunyainya dalam kelimpahan (bdk. Yoh 3: 16; 10: 10b).

Keluarga akan menjadi core value atau nilai utama untuk titik berangkat dan cara berada kehidupan keberimanan kita ke depan. Sambil merasakan kebaikan dan kemurahan hati Bapa dalam diri kita masing-masing, kita berharap setiap pribadi dapat mengasihi keluarganya masing-masing dengan sepenuh hati, menghidupi dan menjaganya tanpa kenal lelah dengan kebaikan, kejujuran, dengan belas kasih, sikap ramah dan santun, dan dengan iman kristiani sebagai landasannya. Semoga tumbuh senyuman kasih sayang yang iklas, keramahan, bela rasa, setia kawan, penuh pengampunan bagi setiap kesalahan para anggotanya, dan dengan hormat dan bakti manusiawi saling merawat dan meneguhkan. Keluarga yang baik akan melahirkan pribadi-pribadi manusia yang penuh kasih sayang, toleran, dan empati tinggi kepada sesama manusia lain, yang pada akhirnya akan melahirkan masyarakat yang sehat dan negara serta bangsa yang bermartabat[2].

 

Sejarah Selayang Pandang

Keuskupan Tanjungkarang telah beberapa kali mengadakan permenungan dan refleksi bersama perjalanan keberimanan kita sebagai Gereja. Kita memahami bahwa “Gereja Perdana” Keuskupan Tanjungkarang sangat menekankan kharisma tenaga-tenaga pastoral (imam, katekis dan sukarelawan). Pada masa awal belum dirasakan kebutuhan koordinasi dan sistem yang terpadu.

Pada tahun 1980 dirumuskan Rencana Kerja Keuskupan Tanjungkarang (RKPK). Gereja menyadari bahwa dibutuhkan karya pastoral yang tepat guna dengan sistem yang terpadu dan berjenjang. Umat Allah diajak menyadari panggilannya sebagai Sakramen Keselamatan dalam Komunio. Karya pastoral menekankan katekese ke dalam, yakni pemantapan iman akan Yesus Kristus. RKPK yang dimotori oleh komisi-komisi di tingkat Keuskupan dijabarkan dalam Rencana Kerja Pastoral Parokial (RKPP), dan diteruskan ke Stasi dan Lingkungan atau Kring.

RKPK tersebut dievaluasi pada tahun 1989 dengan menghasilkan Gerakan Pembaharuan Pastoral (GPP). GPP ini bukan membatalkan atau menghapus RKPK melainkan membaharui. Dalam GPP Umat diajak untuk bukan hanya terlibat aktif di seputar altar melainkan juga harus aktif dalam bermasyarakat.

Tahun 1992 diadakan Perpasgelar I. Dalam Perpasgelar I ini Gereja atau Umat Allah diajak untuk melakukan pergerakan bersama membaharui pola hidup, pola pikir dan pola tindak untuk bersama Umat Agama-agama lain membangun persaudaraan yang sejati. Di sini dihasilkan butir-butir utama: dialog, keterbukaan, bermasyarakat, semina verbi dan paradigma baru. Paradigma baru menjadi kunci yang membungkus keempat poin yang lain.

Tahun 2002 diadakan Perpasgelar II. Hajatan ini terutama sebagai evaluasi atau perjalanan Gereja setelah Perpasgelar I. Dalam Perpasgelar II ini masih dirasakan bahwa Perpasgelar I belum sepenuhnya berjalan dengan baik. Persaudaraan masih dirasakan baru dalam tingkat manusiawi atau lahiriah dan belum bernilai persaudaraan sejati yang berdasar pada kesamaan martabat manusia yang sama-sama dikasihi oleh Allah. Mentalitas kemanusian Umat Allah sering masih bersifat feodalisme dan bahkan ada nuansa diskriminasi terhadap kelompok lain. Masalah komunikasi menjadi hal sentral yang sangat perlu diperbaharui agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam berbagai segi kehidupan. Kesadaran Gereja sebagai murid Yesus Kristus belum nampak menggembirakan. Jadi Perpasgelar II ini menekankan dan menyerukan kembali pentingnya melaksanakan butir-butir Perpasgelar I.

 

Perpasgelar III: Keluarga sebagai Titik Berangkat

Secara khusus saya ingin mengajak semua Umat beriman untuk merefleksikan seluruh keberadaan keberimanan kita dari sudut pandang martabat mulia kehidupan keluarga. Keluarga adalah “institusi sekular” pertama yang didirikan oleh Allah sendiri. Dalam Kitab Kejadian, Allah menciptakan manusia pria dan wanita, dan keduanya dibimbing oleh Allah sendiri untuk menjadi satu daging. Pria dan wanita yang diciptakan oleh Allah disatukan oleh-Nya dalam keluarga (Kej 2: 21-23). Dalam keluarga lah anak-anak lahir, tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa yang pada kemudian hari harus juga meninggalkan keluarga asalnya untuk membentuk keluarga baru (Kej 2: 24). Keluarga adalah institusi sekular yang sejak awal sejarah manusia direstui dan diberkati oleh Allah sendiri.

Yesus, Putera Allah yang maha tinggi, tidak lahir dalam lembaga sekular lain kecuali dalam keluarga (bdk. Mat 1: 18-25; Luk 2: 1-7. Dia “dititipkan” oleh Allah dalam Keluarga Kudus Nazareth. Di dalam keluarga itu Yesus sebagai manusia tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang matang dan dewasa (Luk 2: 51-52). Kematangan dan kedewasaan tersebut bukan hanya dalam arti fisik melainkan lebih-lebih dalam arti rohani, mental dan spiritual. Yesus sebagai manusia pastilah tidak hanya mewarisi struktur tubuh fisik, melainkan juga mewarisi seluruh kekayaan rohani, mental dan spiritual dari orang tua-Nya. Dengan kata lain, sebagai manusia kita dapat memikirkan bahwa Yesus hampir mustahil menjadi manusia yang matang dan dewasa, manusia yang beriman teguh dan bertanggung jawab jika tidak mendapatkan bimbingan dan teladan yang baik dari kedua orang tua-Nya.[3]

Keutuhan pasangan suami-istri yang mutlak dalam Gereja Katolik (Mat 19: 6; Mar 10: 9), mempunyai tugas untuk menyiapkan generasi manusia yang baik, sehat jasmani dan rohani, untuk masa depan yang baik bagi bangsa manusia. Perceraian, apapun alasannya, menyakitkan dan merusak bukan hanya keluarga, dan bukan hanya melukai pribadi-pribadi anggota keluarga; melainkan juga melukai masyarakat dunia. Jika kita menghendaki dunia modern yang lebih baik dan manusiawi, jelas bahwa kita perlu mempertahankan keutuhan keluarga kita masing-masing. Dengan mempertahankan keutuhan keluarga, kita mempertahankan dan memuliakan kemanusiaan kita. Masa depan Gereja juga tergantung pada keutuhan keluarga. Tanpa keutuhan keluarga tidak bisa dibayangkan adanya Gereja di masa depan.[4]

Jadi sebenarnya semakin dunia menjadi modern semakin perlu nilai-nilai luhur keluarga tradisional dipelihara. Sebab semakin dunia menjadi modern sebenarnya semakin membutuhkan Tuhan dan semakin dunia membutuhkan Tuhan semakin dunia perlu mempertahankan keberadaan dan keutuhan keluarga. Dengan keberadaan keluarga yang utuh, manusia menjadi manusiawi, dan akan makin menjadi beriman. Dengan menjaga keutuhan nilai-nilai keluarga, manusia tidak akan terasing dari dirinya sendiri.[5]

Sayangnya keluarga sebagai Ecclesia Domestica dan sebagai sekolah kemanusiaan yang dikehendaki dan diberkati oleh Allah itu di masa modern ini semakin digerogoti oleh berbagai “penyakit” yang mengancam kesehatannya. Kita menyadari bahwa iman generasi kita tidak semilitan iman para pendahulu kita walaupun mungkin pengetahuannya lebih baik dari pendahulunya. Di zaman ini juga ada kecenderungan berkembang pesat mentalitas hidup materialis, komsumeris, hedonis, dan mentalitas instan. Orang bangga disebut orang sukses jika memiliki barang-barang material. Tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme yang sangat merugikan kehidupan bersama dan mengancam kesejahteraan bangsa tidak mengusik hati nurani. Penyalahgunaan narkoba yang diiringi dengan maraknya tindak kejahatan, human traficking, seks bebas, perselingkuhan dan bahkan pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur dari orang-orang dekatnya, hampir setiap hari menghiasi media komunikasi. Ketidakmatangan dalam membentuk rumah tangga melahirkan KDRT dan perbudakan dalam rumah tangga yang bisa berujung pada perceraian. Anak-anak tidak mengalami pendidikan iman dan kemanusiaan yang memadai. Kebanggaan sebagai orang Katolik tidak mudah dipertahankan karena merasa diri minoritas di tengah masyarakat lain yang mempunyai pemikiran berbeda tentang nilai-nilai tak terceraikannya perkawinan (unitas-indissolubilitas). Keluarga yang tidak sehat juga sulit diharapkan akan menumbuhkan panggilan imam dan panggilan hidup religius pada anak-anaknya.

Apakah yang harus diperbuat oleh Gereja yang dipanggil oleh Allah untuk menjadi garam dan terang dunia (Mat 5: 13 – 14)? Dengan ikut arus pemikiran duniawi bukankah kita ini lebih menyukai kegelapan dari pada terang (Yoh 3: 19)?  Bukankah dengan demikian kita mengkhianati panggilan luhur dan martabat kita sebagai anak-anak Allah? Apakah kita sekarang demikian lemah sehinga kita tidak dapat setia seperti para pendahulu kita?[6]

 

Harapan pada Perpasgelar III: Keluarga adalah Garam dan Terang Dunia

Kita mengimani bahwa Yesus adalah Cahaya Dunia (Yoh 1: 5; Ibr 1: 3; 2 Ptr 1: 19; Why 21: 24; Why 22: 5). Yesus meminta kita juga menjadi Cahaya Dunia (Mat 5:16). Kita tidak boleh hidup tersembunyi (Ma5 5: 15; Mrk 4:21; Luk 8: 16; 11: 33;). Kita harus berani tampil di muka umum dan manyatakan diri bahwa kita ini murid-murid Yesus. Karena Yesus adalah Cahaya Dunia dan karena kita adalah murid-muridNya, maka kita juga adalah Cahaya Dunia (Luk 12: 35; 2 Ptr 1: 19).[7]

Yesus pernah hidup dalam keluarga. Kita hidup di dalam keluarga. Karena Yesus pernah hidup dalam keluarga, dan karena kita juga hidup di dalam keluarga, maka logikanya keluarga kristiani adalah juga Cahaya Dunia. Bukankah masing-masing keluarga terdiri dari dan dihidupi oleh cahaya-cahaya Dunia? Yesus membawa Cahaya bagi keluarga, maka keluarga adalah juga Cahaya Dunia.[8]

Ketika Yesus mengatakan kepada para pendengarnya, “kamulah garam dunia, kamulah terang dunia” (Mat 5: 13 – 14), kata-kata itu ditujukan kepada semua murid-Nya, termasuk kita juga di zaman ini. Garam dunia berarti yang memberikan rasa enak, sedap, menyenangkan. Terang dunia berarti penunjuk jalan, pembimbing dan panutan ke dalam kebenaran. Itulah panggilan kita: menjadi rasul yang membawa orang lain kepada kebenaran sambil mengusakan kehidupan bersama yang penuh perdamaian, kerukunan dan persaudaraan sejati dengan semua orang yang berkehendak baik.

Kita menyadari bahwa semua orang beriman berkat rahmat pembaptisan dianugerahi martabat yang luhur sebagai putera atau puteri Allah. Martabat luhur tersebut mengandung tugas panggilan untuk ambil bagian dalam tugas Yesus sebagai imam, nabi dan raja. Dengan kata lain semua orang beriman, segera setelah dia dipermandikan, dirinya adalah seorang rasul yakni utusan Tuhan. Konsekwensinya, semua orang beriman, melalui cara hidup dan keterlibatannya dalam kegiatan-kegiatan Gereja dan kegiatan-kegiatan bermasyarakat sehari-hari, seharusnya: memancarkan kasih Allah guna memanggil semua orang untuk menjalani hidup dan karyanya dengan benar sesuai  dengan kehendak Allah (bdk. 1 Kor 12 , KHK 204, LG 12). Panggilan keterlibatan itu melekat dan bersifat mutlak (bukan kalau senang atau kalau ada waktu), sebab seperti Kristus tidak menebus kita dengan setengah hati atau setengah-setengah (bdk. LG 3), maka setiap orang Kristen juga harus mewartakan Kristus dengan penuh semangat kepada semua orang (AG 1).“Hakekat Gereja peziarah bersifat missioner, sebab berasal dari perutusan Putera dan perutusan Roh Kudus menurut rencana Allah Bapa” (LG 1).“Seluruh Gereja bersifat missioner, dan karya mewartakan Injil merupakan tugas Umat Allah yang mendasar(LG 35).

Sifat missioner dengan tugas yang mendasar ini ternyata mengalir dari rencana Allah Bapa, yang kemudian diwujudkan melalui jalan inkarnasi melalui mana Yesus Kristus, Putera Allah, menjelma menjadi manusia agar supaya dapat berbicara dengan kita dan menyucikan kita dari dosa (bdk. Ibrani 1: 1-4). Rencana Bapa yang terwujud dalam inkarnasi itu kemudian ditanggapi oleh manusia dengan menerima Yesus dan percaya kepada-Nya. Oleh kepercayaan itu, manusia mendapatkan kesempatan untuk diangkat menjadi anak-anak Allah (bdk. Yoh 1: 12-13). Pengangkatan itu kemudian diteguhkan secara sakramental melalui pembaptisan (bdk. AG 7).

Idealnya setiap orang Katolik di Keuskupan Tanjungkarang ini, dengan menghidupi Visi dan Misi Keuskupan, adalah seorang militan dalam beriman: Yesus dan Kitab Suci seharusnya menjadi pondasi dan orientasi hidupnya, baik ketika berada di lingkungan Gereja maupun ketika berada di lingkungan masyarakatnya yang mayoritas bukanlah orang Katolik. Orang Katolik seharusnya berani dan bangga mengakui diri sebagai orang Katolik serta berani dan bangga berperilaku sebagai orang Katolik (bdk. 2 Pet 2: 9-10) dengan tetap menjunjung tinggi persaudaraan sejati dengan orang lain yang berbeda keyakinan.

Sebenarnya semangat menghidupi iman itu selalu dipompa dan dibaharui sekurang-kurangnya secara khusus dalam pendalaman iman di masa-masa khusus (paling tidak pada masa pra-Paskah dan Adven). Idealnya, setiap kegiatan katekese dapat menghasilkan buah secara real, pertobatan dan hidup baru. Sayangnya, katekese sering tidak diikuti oleh mayoritas Umat, bahkan hanya sebagian kecil saja yang ikut dan itu pun kebanyakan ibu-ibu yang bisa meluangkan waktu. Berbagai kegiatan rohani parokial dan wilayah, juga kategorial juga telah diusahakan. Apakah Umat kita memang sudah dewasa dalam iman atau model pendalaman iman dan kegiatan rohani yang tidak menarik dan harus dicari bentuk lain? Barangkali harus ditemukan kegiatan rohani dan kemasyarakatan yang dapat menggerakkan kesaksian Umat yang bukan sekedar acara rutin mengisi waktu di masa khusus itu?

Betapa pentingnya pelaksanaan dan perayaan Perpasgelar ini, maka saya percayakan diri saya sendiri, para imam, para anggota panitia dan seluruh Umat Allah Keuskupan Tanjungkarang kepada Bunda Maria, Bunda Kristus, Bunda Gereja; agar dengan bantuan doanya pada Yesus, Perpasgelar Gereja Keuskupan Tanjungkarang menjadi rahmat besar bagi Umat Allah di Keuskupan Tanjungkarang tercinta ini.

“Rahmat Tuhan Yesus Kristus, Cinta Kasih Bapa dan dalam Persatuan Roh Kudus selalu beserta Anda semua” (2 Kor 13.13).

 

 

  • Doa Persiapan Perpasgelar III Keuskupan Tanjung Karang

 

Bapa yang Mahasetia, kami memuji dan bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah memimpin dan melindungi kami, Gereja-Mu,  dengan rahmat-Mu yang berlimpah hingga saat ini.  Karena kasih dan kesetiaan-Mu, Engkau telah mengutus Putra-Mu, Yesus Kristus yang telah mempercayakan dengan menyerahkan kepada kami tugas mengelola dan mengembangkan Gereja-Nya untuk menjadi tanda yang nyata dan subur, demi kebahagiaan umat manusia di dunia ini.

 

Bapa yang Mahatahu, Engkau tahu akan segala kelemahan kami. Kami yang lahir dan hidup dalam keluarga-keluarga kristiani tak luput dari segala godaan kesenangan dan kenikmatan duniawi.  Gaya hidup hedonis, materialis, konsumeris selalu memenuhi keinginan hati kami. Korupsi yang tumbuh berkembang dalam masyarakat menggerogoti iman kami. Kekerasan dalam rumah tangga mengurangi keharmonisan dalam keluarga kami. Bahaya narkoba selalu mengancam hidup kami. Itu semua dapat melemahkan penghayatan iman dalam hidup kami.

 

Bapa yang Mahabaik, Engkau yang mencintai kami sejak kami diciptakan oleh-Mu hingga saat ini, walaupun kami jatuh dalam kelemahan dan dosa, Engkau tetap bermurah hati dengan menganugerahkan belaskasih pengampunan-Mu. Engkaulah Gembala baik yang selalu mengasihi, melindungi, menuntun dan menginginkan kami selalu hidup dalam lindungan kasih-Mu sehingga kami akan selalu bangkit dan bersemangat untuk mencari dan melakukan apa yang menjadi kehendak-Mu.

Bapa yang Mahapengasih, baharuilah hidup dan sikap kami dengan pencurahan Roh Kudus-Mu terutama kami yang kini sedang mempersiapkan Perpasgelar III. Terangilah akal budi kami supaya kami dapat mengetahui dan memahami apa yang terjadi, apa yang menjadi kesulitan dan kebutuhan baik di dalam maupun di luar Gereja. Berilah kami semangat untuk saling mengasihi dan melayani satu sama lain dalam tindakan-tindakan yang nyata. Jadikanlah kami  umat yang selalu terbuka, memasyarakat, mau berdialog dan tidak eksklusif, menebarkan benih-benih kasih di antara semua saudara. Berilah kami semangat missioner untuk berbagi kasih terhadap sesama kami terutama yang lemah dan tersingkir.

Bapa yang Mahakudus, Engkau memanggil kami  semua untuk hidup kudus dengan menjadi pelayan-pelayan-Mu yang setia. Maka panggilah kami, terutama orang-orang muda untuk menjadi pekerja di kebun anggur-Mu secara khusus dan sekaligus menjadi teladan kesucian di tengah-tengah kami. Kuatkanlah kami yang sedang berziarah di dunia ini agar perjalanan hidup kami dapat sampai masuk ke dalam Kerajaan-Mu. Semua ini kami hunjukkan kepada-Mu ya Bapa dengan pengantaraan Putra-Mu Yesus Kristus yang senantiasa menyertai hidup kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

 

[1] SOER merupakan revisi terhadap SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) yang merupakan alat analisis utama model perencanaan MBO yang masuk dalam kategori perencanaan berlandaskan problem solving. SAOER lebih menampilkan cara berpikir positif sebagai cara baru mengatasi masalah.

[2]Lihat Surat Gembala Paskah 2016.

[3]Lihat Surat Gembala Natal 2013.

[4]Pesan Natal Paus Benediktus pada Kuria Romana tgl. 21 Desember 2012.

[5]Lihat Surat Gembala Natal 2014.

[6]Lihat Surat Gembala paskah 2015.

[7]Lihat Surat Gembala Natal 2014.

[8]Paus Fransiskus dalam Audiensi dengan para wartawan sekembalinya dari Tanah Suci, 26 Mei 2014.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here