PERPASGELAR III

KEUSKUPAN TANJUNGKARANG

KELUARGA: TERANG DUNIA DAN GARAM MASYARAKAT

 

Perpasgelar atau Pertemuan Pastoral Gereja Partikular atau yang menurut hukum disebut Sinode Keuskupan adalah usaha bersama Uskup dan kaum beriman kristiani untuk merenungkan dan merefleksikan kembali perjalanan Gereja Partikular dan menemukan kehendak Tuhan bagi Umat-Nya untuk perjalanan ke depan selanjutnya (bdk. Kan 460, 463 $ 2).  Perpasgelar adalah permenungan dan pencarian bersama kehendak Allah bagi Umat-Nya. Kita berusaha dalam terang Roh Kudus, bersama dengan semua orang yang berkehendak baik, bergerak bersama dalam perjalanan menuju ke masa depan ideal yang lebih baik, lebih beriman, lebih manusiawi dan beradab. Kita berharap akan lahir Gereja yang lebih dinamis di mana seluruh Umat bersama dengan gembalanya berpartisipasi aktif menghadirkan Kerajaan Allah sebagai Sakramen Keselamatan. Semoga setiap orang menjadi bagian tak terpisahkan dari komunitas dan masyarakatnya, saling mengenal dengan baik, merasa senasib sepenanggungan, saling mendukung dan menguatkan agar setiap anggota mempunyai hidup dan mempunyainya dalam kelimpahan (bdk. Yoh 3: 16; 10: 10b).

Keluarga akan menjadi core value atau nilai utama untuk titik berangkat dan cara berada kehidupan keberimanan kita ke depan. Sambil merasakan kebaikan dan kemurahan hati Bapa dalam diri kita masing-masing, kita berharap setiap pribadi dapat mengasihi keluarganya masing-masing dengan sepenuh hati, menghidupi dan menjaganya tanpa kenal lelah dengan kebaikan, kejujuran, dengan belas kasih, sikap ramah dan santun, dan dengan iman kristiani sebagai landasannya. Semoga tumbuh senyuman kasih sayang yang iklas, keramahan, bela rasa, setia kawan, penuh pengampunan bagi setiap kesalahan para anggotanya, dan dengan hormat dan bakti manusiawi saling merawat dan meneguhkan. Keluarga yang baik akan melahirkan pribadi-pribadi manusia yang penuh kasih sayang, toleran, dan empati tinggi kepada sesama manusia lain, yang pada akhirnya akan melahirkan masyarakat yang sehat dan negara serta bangsa yang bermartabat[1].

 

Sejarah Selayang Pandang

Keuskupan Tanjungkarang telah beberapa kali mengadakan permenungan dan refleksi bersama perjalanan keberimanan kita sebagai Gereja. Kita memahami bahwa “Gereja Perdana” Keuskupan Tanjungkarang sangat menekankan kharisma tenaga-tenaga pastoral (imam, katekis dan sukarelawan). Pada masa awal belum dirasakan kebutuhan koordinasi dan sistem yang terpadu.

Pada tahun 1980 dirumuskan Rencana Kerja Keuskupan Tanjungkarang (RKPK). Gereja menyadari bahwa dibutuhkan karya pastoral yang tepat guna dengan sistem yang terpadu dan berjenjang. Umat Allah diajak menyadari panggilannya sebagai Sakramen Keselamatan dalam Komunio. Karya pastoral menekankan katekese ke dalam, yakni pemantapan iman akan Yesus Kristus. RKPK yang dimotori oleh komisi-komisi di tingkat Keuskupan dijabarkan dalam Rencana Kerja Pastoral Parokial (RKPP), dan diteruskan ke Stasi dan Lingkungan atau Kring.

RKPK tersebut dievaluasi pada tahun 1989 dengan menghasilkan Gerakan Pembaharuan Pastoral (GPP). GPP ini bukan membatalkan atau menghapus RKPK melainkan membaharui. Dalam GPP Umat diajak untuk bukan hanya terlibat aktif di seputar altar melainkan juga harus aktif dalam bermasyarakat.

Tahun 1992 diadakan Perpasgelar I. Dalam Perpasgelar I ini Gereja atau Umat Allah diajak untuk melakukan pergerakan bersama membaharui pola hidup, pola pikir dan pola tindak untuk bersama Umat Agama-agama lain membangun persaudaraan yang sejati. Di sini dihasilkan butir-butir utama: dialog, keterbukaan, bermasyarakat, semina verbi dan paradigma baru. Paradigma baru menjadi kunci yang membungkus keempat poin yang lain.

Tahun 2002 diadakan Perpasgelar II. Hajatan ini terutama sebagai evaluasi atau perjalanan Gereja setelah Perpasgelar I. Dalam Perpasgelar II ini masih dirasakan bahwa Perpasgelar I belum sepenuhnya berjalan dengan baik. Persaudaraan masih dirasakan baru dalam tingkat manusiawi atau lahiriah dan belum bernilai persaudaraan sejati yang berdasar pada kesamaan martabat manusia yang sama-sama dikasihi oleh Allah. Mentalitas kemanusian Umat Allah sering masih bersifat feodalisme dan bahkan ada nuansa diskriminasi terhadap kelompok lain. Masalah komunikasi menjadi hal sentral yang sangat perlu diperbaharui agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam berbagai segi kehidupan. Kesadaran Gereja sebagai murid Yesus Kristus belum nampak menggembirakan. Jadi Perpasgelar II ini menekankan dan menyerukan kembali pentingnya melaksanakan butir-butir Perpasgelar I.

 

Perpasgelar III: Keluarga sebagai Titik Berangkat

Secara khusus saya ingin mengajak semua Umat beriman untuk merefleksikan seluruh keberadaan keberimanan kita dari sudut pandang martabat mulia kehidupan keluarga. Keluarga adalah “institusi sekular” pertama yang didirikan oleh Allah sendiri. Dalam Kitab Kejadian, Allah menciptakan manusia pria dan wanita, dan keduanya dibimbing oleh Allah sendiri untuk menjadi satu daging. Pria dan wanita yang diciptakan oleh Allah disatukan oleh-Nya dalam keluarga (Kej 2: 21-23). Dalam keluarga lah anak-anak lahir, tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa yang pada kemudian hari harus juga meninggalkan keluarga asalnya untuk membentuk keluarga baru (Kej 2: 24). Keluarga adalah institusi sekular yang sejak awal sejarah manusia direstui dan diberkati oleh Allah sendiri.

Yesus, Putera Allah yang maha tinggi, tidak lahir dalam lembaga sekular lain kecuali dalam keluarga (bdk. Mat 1: 18-25; Luk 2: 1-7. Dia “dititipkan” oleh Allah dalam Keluarga Kudus Nazareth. Di dalam keluarga itu Yesus sebagai manusia tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang matang dan dewasa (Luk 2: 51-52). Kematangan dan kedewasaan tersebut bukan hanya dalam arti fisik melainkan lebih-lebih dalam arti rohani, mental dan spiritual. Yesus sebagai manusia pastilah tidak hanya mewarisi struktur tubuh fisik, melainkan juga mewarisi seluruh kekayaan rohani, mental dan spiritual dari orang tua-Nya. Dengan kata lain, sebagai manusia kita dapat memikirkan bahwa Yesus hampir mustahil menjadi manusia yang matang dan dewasa, manusia yang beriman teguh dan bertanggung jawab jika tidak mendapatkan bimbingan dan teladan yang baik dari kedua orang tua-Nya.[2]

Keutuhan pasangan suami-istri yang mutlak dalam Gereja Katolik (Mat 19: 6; Mar 10: 9), mempunyai tugas untuk menyiapkan generasi manusia yang baik, sehat jasmani dan rohani, untuk masa depan yang baik bagi bangsa manusia. Perceraian, apapun alasannya, menyakitkan dan merusak bukan hanya keluarga, dan bukan hanya melukai pribadi-pribadi anggota keluarga; melainkan juga melukai masyarakat dunia. Jika kita menghendaki dunia modern yang lebih baik dan manusiawi, jelas bahwa kita perlu mempertahankan keutuhan keluarga kita masing-masing. Dengan mempertahankan keutuhan keluarga, kita mempertahankan dan memuliakan kemanusiaan kita. Masa depan Gereja juga tergantung pada keutuhan keluarga. Tanpa keutuhan keluarga tidak bisa dibayangkan adanya Gereja di masa depan.[3]

Jadi sebenarnya semakin dunia menjadi modern semakin perlu nilai-nilai luhur keluarga tradisional dipelihara. Sebab semakin dunia menjadi modern sebenarnya semakin membutuhkan Tuhan dan semakin dunia membutuhkan Tuhan semakin dunia perlu mempertahankan keberadaan dan keutuhan keluarga. Dengan keberadaan keluarga yang utuh, manusia menjadi manusiawi, dan akan makin menjadi beriman. Dengan menjaga keutuhan nilai-nilai keluarga, manusia tidak akan terasing dari dirinya sendiri.[4]

Sayangnya keluarga sebagai Ecclesia Domestica dan sebagai sekolah kemanusiaan yang dikehendaki dan diberkati oleh Allah itu di masa modern ini semakin digerogoti oleh berbagai “penyakit” yang mengancam kesehatannya. Kita menyadari bahwa iman generasi kita tidak semilitan iman para pendahulu kita walaupun mungkin pengetahuannya lebih baik dari pendahulunya. Di zaman ini juga ada kecenderungan berkembang pesat mentalitas hidup materialis, komsumeris, hedonis, dan mentalitas instan. Orang bangga disebut orang sukses jika memiliki barang-barang material. Tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme yang sangat merugikan kehidupan bersama dan mengancam kesejahteraan bangsa tidak mengusik hati nurani. Penyalahgunaan narkoba yang diiringi dengan maraknya tindak kejahatan, human traficking, seks bebas, perselingkuhan dan bahkan pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur dari orang-orang dekatnya, hampir setiap hari menghiasi media komunikasi. Ketidakmatangan dalam membentuk rumah tangga melahirkan KDRT dan perbudakan dalam rumah tangga yang bisa berujung pada perceraian. Anak-anak tidak mengalami pendidikan iman dan kemanusiaan yang memadai. Kebanggaan sebagai orang Katolik tidak mudah dipertahankan karena merasa diri minoritas di tengah masyarakat lain yang mempunyai pemikiran berbeda tentang nilai-nilai tak terceraikannya perkawinan (unitas-indissolubilitas). Keluarga yang tidak sehat juga sulit diharapkan akan menumbuhkan panggilan imam dan panggilan hidup religius pada anak-anaknya.

Apakah yang harus diperbuat oleh Gereja yang dipanggil oleh Allah untuk menjadi garam dan terang dunia (Mat 5: 13 – 14)? Dengan ikut arus pemikiran duniawi bukankah kita ini lebih menyukai kegelapan dari pada terang (Yoh 3: 19)?  Bukankah dengan demikian kita mengkhianati panggilan luhur dan martabat kita sebagai anak-anak Allah? Apakah kita sekarang demikian lemah sehinga kita tidak dapat setia seperti para pendahulu kita?[5]

 

Harapan pada Perpasgelar III: Keluarga adalah Garam dan Terang Dunia

Kita mengimani bahwa Yesus adalah Cahaya Dunia (Yoh 1: 5; Ibr 1: 3; 2 Ptr 1: 19; Why 21: 24; Why 22: 5). Yesus meminta kita juga menjadi Cahaya Dunia (Mat 5:16). Kita tidak boleh hidup tersembunyi (Ma5 5: 15; Mrk 4:21; Luk 8: 16; 11: 33;). Kita harus berani tampil di muka umum dan manyatakan diri bahwa kita ini murid-murid Yesus. Karena Yesus adalah Cahaya Dunia dan karena kita adalah murid-muridNya, maka kita juga adalah Cahaya Dunia (Luk 12: 35; 2 Ptr 1: 19).[6]

Yesus pernah hidup dalam keluarga. Kita hidup di dalam keluarga. Karena Yesus pernah hidup dalam keluarga, dan karena kita juga hidup di dalam keluarga, maka logikanya keluarga kristiani adalah juga Cahaya Dunia. Bukankah masing-masing keluarga terdiri dari dan dihidupi oleh cahaya-cahaya Dunia? Yesus membawa Cahaya bagi keluarga, maka keluarga adalah juga Cahaya Dunia.[7]

Ketika Yesus mengatakan kepada para pendengarnya, “kamulah garam dunia, kamulah terang dunia” (Mat 5: 13 – 14), kata-kata itu ditujukan kepada semua murid-Nya, termasuk kita juga di zaman ini. Garam dunia berarti yang memberikan rasa enak, sedap, menyenangkan. Terang dunia berarti penunjuk jalan, pembimbing dan panutan ke dalam kebenaran. Itulah panggilan kita: menjadi rasul yang membawa orang lain kepada kebenaran sambil mengusakan kehidupan bersama yang penuh perdamaian, kerukunan dan persaudaraan sejati dengan semua orang yang berkehendak baik.

Kita menyadari bahwa semua orang beriman berkat rahmat pembaptisan dianugerahi martabat yang luhur sebagai putera atau puteri Allah. Martabat luhur tersebut mengandung tugas panggilan untuk ambil bagian dalam tugas Yesus sebagai imam, nabi dan raja. Dengan kata lain semua orang beriman, segera setelah dia dipermandikan, dirinya adalah seorang rasul yakni utusan Tuhan. Konsekwensinya, semua orang beriman, melalui cara hidup dan keterlibatannya dalam kegiatan-kegiatan Gereja dan kegiatan-kegiatan bermasyarakat sehari-hari, seharusnya: memancarkan kasih Allah guna memanggil semua orang untuk menjalani hidup dan karyanya dengan benar sesuai  dengan kehendak Allah (bdk. 1 Kor 12 , KHK 204, LG 12). Panggilan keterlibatan itu melekat dan bersifat mutlak (bukan kalau senang atau kalau ada waktu), sebab seperti Kristus tidak menebus kita dengan setengah hati atau setengah-setengah (bdk. LG 3), maka setiap orang Kristen juga harus mewartakan Kristus dengan penuh semangat kepada semua orang (AG 1). “Hakekat Gereja peziarah bersifat missioner, sebab berasal dari perutusan Putera dan perutusan Roh Kudus menurut rencana Allah Bapa” (LG 1).“Seluruh Gereja bersifat missioner, dan karya mewartakan Injil merupakan tugas Umat Allah yang mendasar (LG 35).

Sifat missioner dengan tugas yang mendasar ini ternyata mengalir dari rencana Allah Bapa, yang kemudian diwujudkan melalui jalan inkarnasi melalui mana Yesus Kristus, Putera Allah, menjelma menjadi manusia agar supaya dapat berbicara dengan kita dan menyucikan kita dari dosa (bdk. Ibrani 1: 1-4). Rencana Bapa yang terwujud dalam inkarnasi itu kemudian ditanggapi oleh manusia dengan menerima Yesus dan percaya kepada-Nya. Oleh kepercayaan itu, manusia mendapatkan kesempatan untuk diangkat menjadi anak-anak Allah (bdk. Yoh 1: 12-13). Pengangkatan itu kemudian diteguhkan secara sakramental melalui pembaptisan (bdk. AG 7).

Idealnya setiap orang Katolik di Keuskupan Tanjungkarang ini, dengan menghidupi Visi dan Misi Keuskupan, adalah seorang militan dalam beriman: Yesus dan Kitab Suci seharusnya menjadi pondasi dan orientasi hidupnya, baik ketika berada di lingkungan Gereja maupun ketika berada di lingkungan masyarakatnya yang mayoritas bukanlah orang Katolik. Orang Katolik seharusnya berani dan bangga mengakui diri sebagai orang Katolik serta berani dan bangga berperilaku sebagai orang Katolik (bdk. 2 Pet 2: 9-10) dengan tetap menjunjung tinggi persaudaraan sejati dengan orang lain yang berbeda keyakinan.

Sebenarnya semangat menghidupi iman itu selalu dipompa dan dibaharui sekurang-kurangnya secara khusus dalam pendalaman iman di masa-masa khusus (paling tidak pada masa pra-Paskah dan Adven). Idealnya, setiap kegiatan katekese dapat menghasilkan buah secara real, pertobatan dan hidup baru. Sayangnya, katekese sering tidak diikuti oleh mayoritas Umat, bahkan hanya sebagian kecil saja yang ikut dan itu pun kebanyakan ibu-ibu yang bisa meluangkan waktu. Berbagai kegiatan rohani parokial dan wilayah, juga kategorial juga telah diusahakan. Apakah Umat kita memang sudah dewasa dalam iman atau model pendalaman iman dan kegiatan rohani yang tidak menarik dan harus dicari bentuk lain? Barangkali harus ditemukan kegiatan rohani dan kemasyarakatan yang dapat menggerakkan kesaksian Umat yang bukan sekedar acara rutin mengisi waktu di masa khusus itu?

Betapa pentingnya pelaksanaan dan perayaan Perpasgelar ini, maka saya percayakan diri saya sendiri, para imam, para anggota panitia dan seluruh Umat Allah Keuskupan Tanjungkarang kepada Bunda Maria, Bunda Kristus, Bunda Gereja; agar dengan bantuan doanya pada Yesus, Perpasgelar Gereja Keuskupan Tanjungkarang menjadi rahmat besar bagi Umat Allah di Keuskupan Tanjungkarang tercinta ini.

“Rahmat Tuhan Yesus Kristus, Cinta Kasih Bapa dan dalam Persatuan Roh Kudus selalu beserta Anda semua” (2 Kor 13.13).

[1] Lihat Surat Gembala Paskah 2016.

[2] Lihat Surat Gembala Natal 2013.

[3] Pesan Natal Paus Benediktus pada Kuria Romana tgl. 21 Desember 2012.

[4] Lihat Surat Gembala Natal 2014.

[5] Lihat Surat Gembala paskah 2015.

[6] Lihat Surat Gembala Natal 2014.

[7] Paus Fransiskus dalam Audiensi dengan para wartawan sekembalinya dari Tanah Suci, 26 Mei 2014.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here