Bahan Pertemuan Minggu Pertama

“GEREJA ADALAH KITA: Periode Mgr. Hermelink Menuju RKPK 1980” 

Tujuan Pertemuan

  1. Umat menggali pengalaman hidup yang positif menggereja Keuskupan Tanjung Karang dari tahun 1961 hingga awal 1990-an.
  2. Umat melihat kembali intisari proses hidup menggereja sebagaimana digariskan dalam Rencana Kerja Pastoral Keuskupan (RKPK) pada tahun 1980 hingga tahun 1992
  3. Umat mampu menyebutkan kegiatan-pastoral yang mengembangkan iman dalam masa itu dalam 5 pilar hidup menggereja (Pewartaan, liturgi, pelayanan, persekutuan, kesaksian)

Langkah-Langkah

  1. Lagu pembuka
  2. No. 618 “Di Dalam Kristus, Bertemu”
  3. Tanda Salib dan Salam

P            : + Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus

U            : Amin

P            : Semoga rahmat Tuhan Kita Yesus Kristus dalam persekutuan dengan Bapa dan  Roh Kudus, senantiasa beserta kita.

U            : Sekarang dan selama-lamanya.

  1. Pengantar

Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Yesus Kristus, masa Prapaskah tahun 2017 ini menjadi kesempatan istimewa bagi kita semua, anggota Gereja Keuskupan Tanjung Karang, untuk dua persiapan. Pertama, kita semua mempersiapkan diri memasuki misteri pokok iman Kristiani kita, yaitu: sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.  Kedua, kita semua mempersiapkan seluruh jemaat menyambut Pertemuan Pastoral Gereja Partikular (PERPASGELAR) III yang akan merumuskan bersama alur dan cara menghadirkan diri seluruh gembala dan umat di Keuskupan ini selama beberapa tahun mendatang. Dengan tema “Berziarah Bersama dalam Persaudaraan Sejati”, empat pertemuan dalam masa Prapaskah ini akan mengundang kita bersama untuk berefleksi dan berbagi pengalaman serta cita-cita hidup menggereja. Kita akan diajak untuk melihat dahulu bagaimana Gereja Keuskupan Tanjung Karang berjalan di masa yang lampau – dengan beberapa tonggak sejarahnya. Dalam pertemuan pertama ini, kita bersama akan melihat dan mengenang kembali: (1) bagaimana hidup berjemaat dengan lima pilarnya di bawah kegembalaan Mgr. Albertus Hermelink dan (2) awal masa kegembalaan Mgr. Andreas Henrisoesanta sampai masa pasca RKPK (Rencana Kerja Pastoral Keuskupan) 1980.  Mari kita mohon rahmat Roh Kudus agar permenungan dan sharing kita membawa orientasi baru bagi gerak seluruh Keuskupan saat ini. Mari kita hening sejenak dan kita siapkan hati kita untuk berdoa!

  1. Doa Pembuka

P            : Marilah berdoa

Ya Allah Bapa yang baik hati, kami bersyukur pada-Mu untuk masa istimewa ini: masa penyucian dan persiapan menjelang misteri-puncak iman kami. Kami mohon karunia Roh Kudus-Mu pada hari ini, agar pertemuan kami ini Kau berkati dan Kau dampingi. Bukalah hati dan budi kami agar dapat melihat bagaimana karya tangan-Mu menyelenggarakan dan menghidupkan jemaat beriman di Keuskupan kami ini pada masa yang lalu. Semoga pembelajaran sejarah ini menambah iman kami akan Engkau, Sang Empunya kebun anggur. Demi Yesus Kristus, Tuhan dan Pengantara kami, yang bersama Dikau dan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa.

U            : Amin.

  1. Bahan Pengantar Pendalaman
  • Gereja sebagai Hirarki: Model Kegembalaan Keuskupan Tanjung Karang 1961-1980

Keuskupan Tanjung Karang berdiri sejak 19 Juli 1961 dengan ditahbiskannya Mgr. Albertus Hermelink sebagai Uskup pertama. Karya misi di Lampung pada saat itu telah cukup berkembang karena cakupan wilayah yang tidak begitu luas dan kondisi umat yang masih homogen. Pada masa kegembalaan Mgr. Albertus Hermelink, penghayatan ‘Gereja sebagai hirarki’ masih cukup kuat dan sangat bertumpu pada kegembalaan para imam dalam upaya membawa jemaat sebanyak-banyaknya kepada Allah. Hirarki (kaum tertahbis)-lah yang menentukan segala kebijakan dan gerak pastoral. Merekalah yang menuntun, sedangkan umatnya adalah jemaat kaum beriman yang dengan taat dituntun oleh sang gembala. Memang hal ini dibutuhkan pada awal tumbuhnya benih iman Katolik di Lampung.

  • Latar Belakang RKPK 1980

Seiring berjalannya waktu, kondisi jemaat Katolik di Lampung turut berubah sesuai dengan kondisi zaman. Paroki-paroki baru bermunculan seiring program transmigrasi nasional. Tongkat kegembalaan Mgr. Albertus Hermelink juga kemudian dilanjutkan oleh Mgr. Andreas Henrisoesanta pada 21 Desember 1976. Uskup kedua Keuskupan Tanjung Karang ini memiliki prinsip tegas bahwa Gereja Katolik Lampung harus hidup dan berkembang sesuai dengan jiwa pembaharuan Gereja Universal sebagaimana terumus dalam hasil Konsili Vatikan II.

Setelah melalui pelbagai tahap persiapan untuk menggali bersama arah pastoral Keuskupan, Mgr. Andreas Henrisoesanta kemudian membentuk Panitia Pertemuan Pastoral Keuskupan, dan pada tanggal 28-30 Oktober 1980, beliau menggelar Pertemuan Pastoral Keuskupan. Pertemuan ini dihadiri oleh 43 orang yang terdiri dari: 2  uskup, 22 imam, seorang frater, 5 suster HK, 7 suster FSGM dan 6 orang awam. Dalam pertemuan pastoral inilah di kancah secara mendalam cara berpastoral yang tepat guna, sistematis, terpadu melalui tahapan-tahapan yang berkesinambungan. Dari sini jugalah akhirnya lahir Rencana Kerja Pastoral Keuskupan yang dikenal dengan RKPK 1980.

  • Gagasan Pokok RKPK 1980

Dalam pertemuan ini, muncul gagasan pokok bahwa Allah memanggil manusia untuk menjadi umat-Nya dan mengutus mereka untuk menghayati iman, mewartakan Kabar Gembira dan mewujudkan Kerajaan Allah. Kesadaran baru ‘Gereja sebagai Umat Allah’ dan Gereja adalah ‘Kita Semua’, menjadi tekanan dalam pertemuan ini. Hal ini berbeda dengan model pastoral Keuskupan Tanjung Karang sebelumnya yang masih didasarkan pada ‘Gereja sebagai hirarki’. Karena Umat Allah itu juga merupakan komunio umat beriman yang bermartabat dan bergiat bersama, maka kegiatan pastoral merupakan kegiatan bersama, meskipun fungsi berbeda sesuai dengan panggilan khasnya. Semua dari mereka bersama-sama membangun Tubuh Kristus.

Dapat dikatakan bahwa fokus kegiatan pastoral dalam RKPK 1980 adalah ‘Pembinaan ke dalam diri Gereja sendiri’  yang bertujuan: (1) menyadarkan jati diri orang Katolik sebagai Jemaat Kristus dan (2) menciptakan kesatuan jemaat yang kompak dengan melaksanakan program kerja yang sudah ditetapkan oleh Keuskupan hingga level paroki dan stasi. Fokus pada pendalaman Kitab Suci, Katekese dan Pembinaan Liturgi terus digalakkan setelah RKPK 1980 hingga tahun 1992.

  • Materi Hari Ini

Dalam pendalaman materi hari ini, kita akan berbagi pengalaman umat dalam hidup menggereja pada masa kegembalaan Mgr. Albertus Hermelink, pada masa ‘Periode RKPK 1980’ hingga pada penghujungnya di awal 1992. Kita akan bersama melihat bagaimana lima pilar hidup Gereja (pewartaan, liturgi, kesaksian, pelayanan, persekutuan) di Lampung ini berkembang sesuai model dan perencanaan Pastoral pada masa itu.

  1. Sharing dan Pendalaman

Para pemandu pertemuan diharapkan dapat memahami pertanyaan pokok di bawah ini dan membahasakan secara sederhana kepada umat. Pemandu dapat dengan kreatif menggali kisah-kisah sederhana yang dialami oleh umat berdasar ‘inti’ dari pertanyaan yang ada di bawah ini.

  Lima Pilar Gereja Katolik
Kata Kunci Apresiatif Persekutuan  Liturgi Pelayanan Pewartaan Kesaksian
 

Kesadaran akan Gereja adalah Kita

 

Bagaimana Anda dan umat  menggambarkan situasi jemaat pada tahun 1960-an sampai 1980-an?

 

Apakah jemaat Anda termasuk dalam kelompok transmigrasi nasional dan lokal?

 

 

Apakah ada hal-hal berkesan saat mengikuti Perayaan Ekaristi pada masa kegembalaan Mgr. Albertus Hermelink?

 

 

 

Apa saja yang pernah dialami saat jemaat berusaha menjawab situasi sulit pada masa itu yang sarat dengan perjuangan hidup?

 

Bagaimana kesaksian tokoh umat tentang ‘perpindahan’ besar-besaran orang-orang non-Katolik menjadi Katolik setelah kejadian Gestapo PKI tahun 1965?

 

Apakah ada pendampingan iman untuk mereka ini?

 

Bagaimana orang Katolik dikenal pada zaman 1960-an? Apakah jemaat sendiri pada masa itu masih merasa sebagai pengikut agama ‘Belanda’ atau ‘penjajah’?

 

 

 

Bagaimana program kerja stasi/paroki disusun pada saat itu? Apakah umat banyak terlibat juga?

 

 

Bagaimana umat di era 1980-an melaksanakan liturgi (baik Sabda maupun Ekaristi)? Apakah ada pembinaan dan persiapan khusus dari para katekis?

 

 

 

 

 

Bagaimana keterlibatan orang Katolik dalam Pemerintahan dan masyarakat dalam era RKPK 1980?

 

 

Pembinaan ke Dalam Diri Anggota Gereja Sendiri

 

Apakah persekutuan jemaat yang dilayani oleh para Romo dan katekis itu menciptakan daya juang dan semangat dalam menghidupi iman Katolik?

 

 

 

Apakah pada ‘periode RKPK 1980’ umat telah mulai dilibatkan dalam pembinaan tentang liturgi?

 

Bagaimana program  pembinaan yang dilakukan pada masa itu memberi dampak pada keterlibatan umat dalam liturgi?

 

Atau justru  Romo yang banyak berperan sendiri dalam urusan liturgi?

 

Bagaimana Gereja lokal memperhatikan orang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel (cacat) pada saat itu?

 

Katekese macam apa yang dahulu dilaksanakan di stasi/lingkungan?

Apakah pengajaran umat saat itu lebih pada ‘menghafalkan’ pokok ajaran Katolik dan doa harian?

 

Bagaimana Katekese Umat dilaksanakan dalam masa itu?

Kerasulan Kitab Suci (KKS) sangat berperan penting pada era RKPK 1980.

 

Pengalaman menarik apa yang saudara alami berkaitan dengan KKS ini?

 

 

 

Dalam hal apa saja kesaksian kita sebagai orang Katolik diusahakan pada program kerja era RKPK 1980?

 

 

 

  1. Doa Penutup: Doa Pertemuan Pastoral Gereja Partikular III
  2. Lagu Penutup No. 621 “Gereja Bagai Bahtera”

 

Bahan Pertemuan Minggu Kedua

“KARYA KESELAMATAN ALLAH BAGI SEMUA:

Kilas Balik PERPASGELAR I”

 

Tujuan Pertemuan

  1. Umat menggali pengalaman hidup menggereja yang positif di Keuskupan Tanjung Karang sejak tonggak sejarah Perpasgelar I dan semasa pelaksanaannya hingga awal 2003
  2. Umat melihat dan membandingkan intisari proses hidup menggereja sebagaimana digariskan dalam Perpasgelar I
  3. Umat mampu menyebutkan kegiatan-pastoral dalam masa itu dalam 5 pilar hidup menggereja (pewartaan, liturgi, pelayanan, persekutuan, kesaksian)

Langkah-Langkah

  1. Lagu pembuka
  2. No. 619 “Alangkah Bahagianya”
  3. Tanda Salib dan Salam

P            : + Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus

U            : Amin

P            : Semoga rahmat Tuhan Kita Yesus Kristus dalam persekutuan dengan Bapa dan  Roh Kudus, senantiasa beserta kita.

U            : Sekarang dan selama-lamanya.

  1. Pengantar

Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Yesus Kristus, dalam pertemuan pertama kemarin kita telah bersama melihat bagaimana Gereja Katolik di bumi Lampung ini dibentuk dan ditumbuhkan. Pada pertemuan itu, kita menemukan warisan kegembalaan yang kuat sesuai figur pastor yang sentral di bawah kegembalaan Mgr. Hermelink. Sementara dalam masa RKPK 1980, kita menjumpai Gereja yang mulai berbenah dalam dirinya sendiri dengan banyak program kerja. Pada hari ini, kita bersama-sama akan mendalami bersama bagaimana Gereja Keuskupan Tanjung Karang bergerak-berdinamika mulai awal 1990-an dengan tonggak Perpasgelar I. Kita akan bersama mendalami dengan saling berbagi pengalaman, kenangan dan bersama membandingkan apa yang baik dari masa-masa tersebut. Kita boleh berharap agar pertemuan pada hari ini bukan hanya membuahkan pembelajaran sejarah, tetapi juga kesadaran baru bahwa Gereja adalah Tubuh Kristus yang selalu (1) mampu membaharui dirinya dan (2) selalu terpanggil untuk pewartaan seluas dunia mulai dari situasi hidup umat yang paling konkret. Maka, mari kita siapkan hati kita; mari kita hening sejenak dan mohon rahmat Tuhan!

  1. Doa Pembuka

P            : Marilah berdoa

Ya Allah Bapa Sumber segala Keselamatan, Engkau memanggil kami berkumpul pada hari ini untuk bersama melihat rancangan tangan-Mu yang telah mendampingi Gereja di Lampung untuk tumbuh sesuai zamannya. Bantulah kami mendalami tonggak-tonggak sejarah yang telah menopang seluruh perjalanan jemaat-Mu. Kami mohon bimbingan Roh-Mu pada hari ini, agar pembicaraan kami menjadi sarana membuka hati dan budi dan membawa semangat baru membangun Gereja-Mu. Demi Yesus Kristus, Tuhan dan Pengantara kami, yang bersama Dikau dan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa.

U            : Amin.

  1. Seputar Perpasgelar I

 

  • Persiapan Perpasgelar I

RKPK dalam sejarahnya berjalan positif dan menimbulkan semangat bagi umat seluruh Keuskupan Tanjung Karang untuk melakukan kegiatan-kegiatan seputar gereja (dalam lingkup internal gereja). Pertama, umat merasa kuat dalam persatuan. Kedua, umat kuat dalam persaudaraan sesama yang satu iman dan satu Gereja. Namun, umat Katolik kurang memperhatikan situasi luar (masyarakat / dunia) tempat mereka hidup. Doa, katekese dan keluarga mendapat prioritas utama. Sedangkan peran keluar seperti peranan sosial dan komunikasi justru mendapat prioritas yang rendah. Bertolak dari keprihatinan itu, Keuskupan Tanjung Karang (Uskup) pada awal tahun 1989 membuat langkah menggugah-menggebrak dengan mencanangkan Gerakan Pembaharuan Pastoral (GPP).

GPP ini bertujuan untuk membaharui pola pikir, sikap, mental, pendekatan, cara dan lain-lain yang digunakan oleh Gereja dalam berpastoral; untuk memperbaharui Strategi Arah Pastoral, dan bukan untuk menghapus atau mengganti RKPK yang sudah ada.

Sebagai kelanjutan dari Gerakan Pembaharuan Pastoral, pada tahun 1992 dirancang suatu pertemuan pastoral untuk Keuskupan Tanjungkarang. Pada tahun ini diselenggarakan pertemuan pastoral dalam dua langkah, dan bersamaan itu muncul istilah ‘Pertemuan Pastoral Gereja Partikular’ atau lebih dikenal dengan Perpasgelar. Perpasgelar yang diadakan pada tahun 1992 ini dalam proses selanjutnya dianggap sebagai Perpasgelar Pertama ‘tahap ketiga’ (setelah melewati RKPK dan GPP).

  • Apa yang Menarik dari Perpasgelar I ?

Diadakan pada 12 – 15 Februari 1992 dihadiri 112 orang yang terdiri dari imam, biarawan-biarawati, dan awam. Tujuan dari pertemuan ini adalah meningkatkan kesadaran sebagai Gereja serentak dalam pembaharuan pola hidup, pola pikir dan pola tindak. Perubahan inilah yang disebut sebagai paradigma baru, sebagai strategi pastoral baru yang menjadi orientasi dari Gereja. Berikut ini adalah buah-buah Perpasgelar Pertama: (1) Paradigma Baru, (2) Dialog, (3) Keterbukaan, (4)Memasyarakat, dan (5) Semina verbi.

Dalam pertemuan hari ini, kita dapat melihat tiga tekanan pokok pemikiran yang dihasilkan oleh Perpasgelar I ini, yaitu:

  • Gereja yang Memasyarakat

Gereja bagi dunia. Dengan menonjolkan paham Gereja sebagai sakramen, Konsili Vatikan II menandaskan bahwa Gereja tidaklah bagi dirinya sendiri, melainkan bagi dunia, maka ditekankannya fungsi pelayanan Gereja seperti Kristus yang datang tidak untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Arah dasar Gereja – sakramen keselamatan dalam arti seutuhnya – ialah masyarakat. Maka umat Katolik Keuskupan Tanjung Karang baik sebagai kelompok maupun perseorangan diajak untuk makin mengembangkan sikap dasar masyarakat ini.

Gereja bersama dunia. Kita tidak hanya ingin menjadi Gereja bagi masyarakat melainkan juga Gereja di dalam dan bersama masyarakat, menjadi setiakawan dengan seluruh masyarakat dan belajar darinya. Kegembiraan dan harapan, kecemasan dan keprihatinan masyarakat Lampung adalah juga kegembiraan dan harapan, kecemasan dan keprihatinan umat Katolik Keuskupan Tanjung Karang (bdk. GS 1)

  • Dialog sebagai Sikap Dasar

Paradigma Baru hidup menggereja menjadi dasar perubahan pola pikir, sikap dan tindakan umat beriman yang diwujudkan dengan berdialog, bersikap terbuka dan mau hidup memasyarakat serta menghargai bahwa penebusan telah dilakukan oleh Sang Penebus sejak Dia datang ke dunia sehingga menumbuh-kembangkan kebaikan-kebaikan yang ada pada diri setiap orang beriman. Atau dengan kata lain, benih-benih sabda keselamatan (semina verbi) telah disemaikan oleh Yesus kepada setiap manusia dan itu harus diakui dan dihargai serta dihormati.

Dialog merupakan ungkapan penghargaan terhadap martabat pribadi manusia sebagai ciptaan Allah yang dicintai dan dipanggil-Nya untuk menjadi satu keluarga besar anak-anak Allah. Baik kesamaan dan kebersamaan, maupun perbedaan antara umat Katolik dan kalangan masyarakat yang berkeyakinan lain dapat menjadi bahan dialog untuk menemukan apa yang baik, apa yang berguna dan berharga untuk kita semua. Dialog kita pilih menjadi kata kunci untuk mengungkapkan sikap dasar yang menjiwai seluruh pastoral kita, baik sikap antar kita sendiri maupun sikap  kita terhadap saudara-saudara kita meningkatkan dan meluaskan jaringan simpati dan persaudaraan.

  • Titik Tolak Pastoral: Bersama Bergerak dari Bawah!

Perpasgelar I berangkat dari kesadaran bahwa umat Allah ber-musafir/berziarah bersama, diharapkan mewartakan imannya kepada seluruh manusia dengan bantuan Roh Kudus. Seperti pada Gereja awal yang merupakan kelompok kecil murid-murid yang malu, takut dan tertutup, tetapi dengan keyakinan bahwa Roh Kudus mendatangi dan mendampingi mereka, kelompok itu menjadi Gereja yang dinamis. Juga dengan berani mereka mewartakan Kabar Gembira yakni Injil Keselamatan kepada sesama bangsanya serta bangsa-bangsa lain. Titik tolak berpastoral beralih tidak lagi dari atas ke bawah (top-down) tetapi dari bawah ke atas (bottom-up). Masing-masing orang harus mengembangkan panggilan itu secara profesional dalam memasyarakat sesuai dengan situasi konkret masyarakat. Itu semua dilakukan dengan berpegang pada himpunan (communio) umat beriman dan perhatian penuh hirarki Gereja. Jadi identitas yang sudah dibangun berkat RKPK tidak ditinggalkan.

Umat diajak bukan hanya bergiat dalam lingkungan sendiri, tetapi juga untuk terbuka mengembangkan karisma perutusan, karisma ‘mewartakan Injil’ (Ef. 4: 11) di tengah dunia / masyarakat. Pengalaman dan penghayatan iman dalam situasi kondisi konkret diarahkan pada berpastoral – merasul bersama untuk mewujudkan kerajaan Allah.

  • Materi Hari Ini

Dalam pendalaman materi hari ini, kita akan berbagi pengalaman umat dalam hidup menggereja kita saat butir-butir Perpasgelar Pertama dilaksanakan dari tahun 1992 hingga awal 2003. Kita akan bersama melihat bagaimana lima pilar hidup Gereja (pewartaan, liturgi, kesaksian, pelayanan, persekutuan) di Lampung ini berkembang pada masa itu seturut pengalaman Ibu-Bapak sekalian. Terutama sekali, kita akan berusaha mengingat kembali hal-hal baik yang telah dilakukan jemaat Katolik pada masa tersebut.

 

  1. Sharing dan Pendalaman
  Lima Pilar Gereja Katolik
Kata Kunci Apresiatif Persekutuan  Liturgi Pelayanan Pewartaan Kesaksian
 

Gereja yang Memasyarakat

 

Apa saja kegiatan inisiatif umat pada saat itu untuk memajukan ‘persekutuan’ dengan masyarakat umum?

 

Apakah hidup bertetangga dengan masyarakat berbeda suku-agama telah berjalan baik pada saat itu?

 

 

Apakah ada buah-buah konkret yang diperoleh dari perayaan liturgi dalam hidup sehari-hari di tengah masyarakat?

 

 

 

Apakah pada masa Perpasgelar I, umat Katolik juga telah menekankan semangat gotong royong dalam pelayanan ‘keluar’ Gereja?

 

 

 

Apakah kita sudah cukup mengenal bahasa dan budaya asli Lampung sehingga memudahkan kita memasyarakat bersama mereka?

 

Apakah ada usaha memperkenalkan iman Katolik pada masyarakat asli Lampung?

 

Pada tahun 1992 hingga awal 2003 yang lalu, apa saja kegiatan Gereja yang melibatkan masyarakat umum-sekitar?

 

 

 

Dialog sebagai Sikap Dasar

 

Apakah pada saat itu ‘kring’ telah dibentuk di tempat Anda sebagai sarana dialog dan membangun persekutuan?

 

 

 

 

Siapa saja tokoh umat yang memberi kesan baik dan mendalam pada Anda?

 

 

 

Apa saja peran musyawarah (dialog) dalam merencanakan atau melakukan pelayanan pada masyarakat (misalnya: ronda malam, perayaan HUT RI, dll.) pada waktu itu?

 

 

 

 

Siapakah Romo yang menurut Anda paling rajin mengunjungi umat dan masyarakat umum lain serta memberi pelajaran selama tahun 1992-2003?

 

Bagaimana  umat Katolik menghadirkan diri dan terlibat dalam masyarakat?

 

 

 

 

 

 

Apa saja kegiatan Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE), Yayasan Pembinaan Sosial Katolik (YPSK) dan Credit Union (CU) yang dapat memberdayakan masyarakat pada umumnya?

 

Gerak Pastoral Mulai dari ‘Bawah’

 

Apakah umat telah mulai ‘dilibatkan’ dalam kegiatan liturgi pada masa ini?

 

Apakah sudah timbul kesadaran dan kesediaan umat untuk juga berpastoral di tengah masyarakat?

 

 

  1. Doa Penutup: Doa Pertemuan Pastoral Gereja Partikular III
  2. Lagu Penutup No. 620 “Lihatlah Rumah Allah”

 

Bahan Pertemuan Minggu Ketiga

“KOMUNIKASI YANG MENGHIDUPKAN:

Butir-Butir PERPASGELAR II hingga Saat Ini”

 

Tujuan Pertemuan

  1. Umat menggali pengalaman hidup menggereja Keuskupan Tanjung Karang dari tonggak sejarah di masa Perpasgelar II hingga hari ini
  2. Umat melihat dan membandingkan intisari proses hidup menggereja sebagaimana digariskan dalam Perpasgelar II
  3. Umat mampu menyebutkan dan mengevaluasi kegiatan-pastoral saat ini dalam 5 pilar hidup menggereja (pewartaan, liturgi, pelayanan, persekutuan, kesaksian)

Langkah-Langkah

  1. Lagu pembuka
  2. No. 568 “Utuslah Roh-Mu, Ya Tuhan”
  3. Tanda Salib dan Salam

P            : + Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus

U            : Amin

P            : Semoga rahmat Tuhan Kita Yesus Kristus dalam persekutuan dengan Bapa dan  Roh Kudus, senantiasa beserta kita.

U            : Sekarang dan selama-lamanya.

  1. Pengantar

Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Yesus Kristus, kita boleh yakin dan percaya bahwa bimbingan Tuhan dalam sejarah hidup Gereja Katolik Tanjung Karang ini selalu tampak nyata. Dalam dua pertemuan lalu kita membahas dan mengenangkan kembali bagaimana umat Katolik di wilayah kita dibentuk-diolah oleh tangan Allah Bapa lewat proses RKPK dan Perpasgelar Pertama. Kita telah melihat usaha untuk konsolidasi internal Gereja pada masa RKPK 1980-an dan juga usaha berdialog dan memasyarakat pada Perpasgelar Pertama tahun 1993-an. Pada kesempatan kali ini, kita akan melihat buah-buah Perpasgelar Kedua yang kita hidupi sampai saat ini. Kita akan melihat bukan hanya ‘sejarah’, namun juga keadaan kita saat ini sebagai Gereja yang hidup. Kita bersama akan berusaha menjawab pertanyaan besar ini: “Di mana Gereja kita saat ini telah berlayar?” dan “Gelombang-gelombang apa saja yang saat ini harus kita hadapi dengan gagah berani bersama rahmat Tuhan?”

Maka, saudari-saudaraku, kita mohon lebih dahulu berkat dan kasih karunia Tuhan dengan hening sejenak – mengarahkan hati pada-Nya dalam doa kita.

  1. Doa Pembuka

P            : Marilah berdoa

Ya Allah Bapa Sumber segala Kebijaksanaan, hari ini kami umat-Mu berkumpul dalam sukacita dan harapan untuk melihat arah dan tujuan perjalanan Gereja kami pada masa sekarang. Kami bersyukur bahwa buah-buah Perpasgelar Kedua telah memandu perjalanan kami selama 15 tahun terakhir ini. Maka, bantulah kami memilah-memetik buah-buah ranum yang sudah kami nikmati sampai hari ini. Terlebih lagi, dengan bantuan Roh Kudus, buatlah kami mampu melihat tantangan nyata yang hari ini kami hadapi. Semua proses hari ini kami serahkan pada-Mu demi Yesus Kristus, Tuhan dan Pengantara kami, yang bersama Dikau dan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa.

U            :Amin.

  1. Seputar Perpasgelar II
  • Latar Belakang Perpasgelar II

Sepuluh tahun berselang sejak Perpasgelar I dilaksanakan. Memandang perubahan zaman dan dinamika hidup menggereja, diadakanlah lagi pertemuan serupa dan merupakan kelanjutannya, yakni Perpasgelar II. Pertemuan yang kedua ini dilaksanakan di RR La Verna – Padang Bulan pada tanggal 19 sampai dengan 23 Agustus 2002.

Apa yang terjadi dan apa yang mau dicapai dengan Perpasgelar II yang lalu? Yang jelas bahwa para romo yang berkarya di Keuskupan Tanjung Karang, para religius (biarawan-biarawati), dan para awam beriman  pertama-tama bersama-sama datang, bertemu dan bercakap-cakap dengan Sang Pastor Agung, Yesus Kristus. Mereka merenung bersama, mendengar sabda Tuhan dan merefleksikan apa yang dikehendaki-Nya. Lalu di dalam lindungan serta bimbingan Roh Kudus, mereka berdialog dan berbagi pengalaman tentang hidup beriman dalam menjemaat dan memasyarakat. Kemudian mereka mencari dan menemukan permasalahan serta solusi terbaik untuk mengatasi persoalan perziarahan hidup beriman di dalam masyarakat dan dunia. Hasil-hasil permenungan inilah yang kemudian menjadi tonggak baru bagi pastoral Keuskupan hingga saat ini.

  • Apa yang Menarik dari Perpasgelar II?

5.2.1. Komunikasi dan Relasi Personal yang Baik

Dalam Butir-Butir Perpasgelar II dirumuskan bahwa “komunikasi” merupakan permasalahan utama yang dialami Gereja Katolik Lampung, yakni komunikasi antar Umat Beriman (Uskup, Pastor, Diakon, Biarawan-biarawati, Umat Awam Beriman).  Begitu juga komunikasi antara Umat Beriman Katolik dengan masyarakat setempat. Semuanya itu pasti juga berakibat akan mengganggu komunikasi antara Umat Beriman dengan Allah.

Komunikasi yang ada dan terjadi saat itu, pada umumnya, dirasakan sangat formal dan kadang-kadang menemukan jalan buntu bila terjadi perbedaan pendapat antara umat dan gembalanya. Komunikasi kurang berjalan! Hal ini bisa dipicu antara lain dengan adanya prinsip kaku ‘umat yang harus memulai inisiatif’, di mana gembala hanya menunggu saja usul dan gerak pastoral dari bawah. Sementara, di sisi lain, umat kerap masih bermental ‘pastor-sentris’ sehingga kedua pihak malah ‘saling menunggu’ siapa yang harus memulai gerakan pastoral dalam paroki.

Pun ada pula gembala yang mempunyai prinsip kaku dalam penggembalaannya; di mana semua perencanaan, kebijakan dan kegiatan pastoral hanya dibuat di kamar pastoran tanpa adanya dialog, keterbukaan dengan umat dan memperhitungkan keadaan masyarakat sekitar! Seolah seperti semua gerak pastoral muncul hanya dari ide pemikiran sang gembala saja. Semuanya itu jelas tidak sesuai dengan semangat Perpasgelar I. Maka masih sangat diperlukan penerapan paradigma baru itu, yakni pertobatan baik gembala maupun umatnya! Ini semua demi terciptanya relasi personal yang lebih baik!

Komunikasi merupakan sarana untuk menuju, menciptakan dan membangun suatu relasi, hubungan yang baik Umat Beriman. Demikian juga membangun relasi yang baik antara Umat Beriman dengan Allah. Dengan adanya komunikasi dan relasi yang baik maka pastoral yang dijalankan oleh Gereja akan berjalan sebagaimana mestinya, karena subyek pastoral adalah Gereja itu sendiri, Umat Allah. Komunikasi dan relasi yang baik juga akan membuat kerjasama yang baik para pelaku pastoral untuk menghadirkan Allah kepada umat manusia melalui sikap dan karya mereka atau sebaliknya, membawa umat manusia kepada Allah.

  • Gereja Masih Mengusahakan Persaudaraan Sejati

Hubungan antara Umat Beriman Katolik dengan umat beriman lain dirasakan pada saat itu masih berada pada tingkat manusiawi dan belum menjadi persaudaraan sejati. Maksudnya, hubungan yang tercipta masih sebatas sopan-santun karena bertetangga, saling menyapa karena teman sekerja dan bergotong royong karena itu sudah merupakan tradisi masyarakat. Semuanya itu dilakukan hanya sebagai pelaksanaan hidup yang sudah merupakan adat-istiadat hidup sosial di masyarakat.

Perpasgelar Kedua ini mendorong seluruh jemaat berbenah diri atau mengadakan pembaharuan diri. Beberapa hal kiranya dapat disebut di sini perubahan-perubahan sikap yang harus terjadi, yakni: Umat Beriman Katolik harus bersikap terbuka, peka dan solider terhadap sesamanya; membangun sikap percaya dan bersahabat terhadap siapa pun; dan mau bersikap rendah hati untuk membangun persaudaraan dalam masyarakat.

  • Jemaat Dewasa dan Mandiri: Tata Kelola Gereja yang Makin Baik

Perpasgelar Kedua – dengan pendekatan problem-solving (pemecahan masalah) – menemukan kehidupan Gereja dan masyarakat yang masih sangat diwarnai oleh mental individualisme, feodalisme, materialisme, konsumerisme dan primordialisme. Gereja menyuarakan agar mental-mental buruk itu dikikis habis supaya hati kita tidak tertutup satu sama lain.

Demikian juga pemikiran yang menganggap bahwa kalangan hirarki sebagai “segala-galanya” harus sedikit demiki sedikit ditinggalkan supaya kerjasama awam dan hirarki dapat semakin terwujud dalam tata kelola Gereja yang lebih baik. Akan tetapi di sisi lain, asas subsidiaritas harus selalu dikedepankan supaya umat semakin dewasa dan mandiri untuk berkarya dalam tata kelola Gereja dan tata kelola hidup duniawinya sendiri. Dengan kata lain, kesempatan bagi partisipasi umat dalam berpastoral harus dibuka lebar-lebar dan kerjasama umat-hirarki harus digalakkan.

  • Materi Hari Ini

Dalam pendalaman materi hari ini, kita akan bersama melihat kondisi Gereja kita pada saat ini dan bagaimana realisasi seruan pastoral dalam Perpasgelar Kedua telah (atau juga belum) kita usahakan. Kita akan bersama melihat bagaimana lima pilar hidup Gereja (pewartaan, liturgi, kesaksian, pelayanan, persekutuan) berkembang pada masa sekarang dan bagian mana yang masih perlu kita beri perhatian lebih.

  1. Sharing dan Pendalaman
Lima Pilar Gereja Katolik
Kata Kunci Apresiatif

 

Persekutuan  Liturgi Pelayanan Pewartaan Kesaksian
 

Komunikasi dan Relasi Personal yang Baik

 

Apakah Dewan Pastoral Paroki telah terbentuk?

 

Bila sudah terbentuk,  apakah anggota DePas dapat bekerja sama dan menjalankan fungsinya dengan baik?

 

Hal apa saja  yang membantu umat untuk membangun relasi personal yang baik dengan para Gembala dan sebaliknya?

 

Apa saja peran serta dan keterlibatan umat dalam kegiatan liturgi saat ini?

 

Apakah pernah digagas kunjungan keluarga – baik oleh para Romo atau oleh Dewan Pastoral?

 

Apakah para Romo di tempat Anda memberi katekese tentang pokok iman Katolik?

 

Apakah di stasi/paroki Anda, katekese berjenjang cukup berjalan?

 

 

 

Apakah ada kegiatan bersama – baik dengan sesama umat Katolik maupun dengan sesama non-Katolik –  untuk saudara-saudari yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan menderita?

 

Bagaimana keluarga-keluarga Katolik bertahan dalam kesetiaan di tengah banyak tantangan? Apa yang selama ini menjadi kekuatan dan sukacita dalam keluarga?

 

Apakah kekayaan dan juga aturan baku dalam Liturgi Gereja telah  cukup disosialisasikan dan dipahami pada semua umat?

 

Apakah masih terjadi kasus-kasus perkawinan Katolik di stasi Anda?

 

Apa peran aktif Jemaat dan para Romo dalam membantu keluarga-keluarga bermasalah ini?

 

Bagaimana pembinaan OMK berjalan di stasi/paroki Anda?

 

Apakah OMK di tempat Anda telah menyadari bahaya narkoba seraya memiliki komitmen untuk menghindarinya?

 

Apakah OMK sudah berani menjadi rasul sebaya bagi teman-temannya baik dalam kegiatan liturgis, maupun dalam kegiatan sosial kemasyarakatan?

 

Gereja Masih Mengusahakan Persaudaraan Sejati

 

Bagaimana keluarga Katolik hidup bertetangga dengan masyarakat sekitar? Apa yang dilakukan agar kualitas iman Katolik menjadi tampak dalam pergaulan?

 

Apakah Anda merasa liturgi telah menjadi perayaan bersama yang mengukuhkan persaudaraan dan berdaya memberi kekuatan dalam hidup Anda?

 

 

 

Apa bentuk keterlibatan nyata Anda dalam kerjasama dengan mereka yang beriman lain?

 

 

 

Apakah pernah disinggung pengajaran tentang berbangsa-bertanah air?

 

 

 

Bagaimana kesaksian jemaat Katolik di tempat Anda sehubungan dengan tingkat konflik (konflik tanah, SARA, kriminalitas) yang meningkat di tengah masyarakat saat ini?

 

 

Sebutkanlah kelompok-kelompok kategorial (dan devosional) yang hidup di stasi/paroki Anda saat ini! Mana yang paling rutin bertemu dan berkumpul?

 

Apakah pernah diadakan kegiatan yang bertujuan untuk mengenalkan pada generasi muda semangat Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika?

 

Apakah ada tokoh Katolik di stasi/paroki Anda yang dikenal karena pergaulan yang luas dengan masyarakat pada umumnya?

 

Apa yang Anda ingin teladani dari tokoh ini?

 

Jemaat Dewasa dan Mandiri: Tata Kelola Gereja yang Makin Baik

 

 

Apakah Anda telah  mengalami sentuhan langsung dari Komisi-Komisi baik dari Paroki maupun dari Keuskupan? (Seperti: Komisi Pengembangan Iman, Komisi Keluarga, Komisi Pertanahan, dll.)

 

Apakah para pemimpin Ibadat di tempat Anda telah dipersiapkan dengan baik dan kesempatan memimpin ibadat diberikan pada sebanyak mungkin umat?

 

Apakah pelayanan bidang pendidikan dan kesehatan mendapat perhatian khusus dalam stasi dan paroki Anda?

 

Bagaimana pembekalan bagi “tim pastoral” dalam Dewan Pastoral di paroki?

 

Apakah ada usaha bersama di bidang penguatan sosial-ekonomi yang telah berjalan?

 

Apakah umat cukup mengetahui keadaan keuangan lingkungan/stasi dan Paroki?

 

Bagaimana usaha yang Anda lakukan dalam mewujudkan tata kelola keuangan Gereja yang transparan dan akuntabel?

 

Apakah membaca Kitab Suci dan hidup doa telah rutin dilakukan dalam keluarga Anda?

 

Apakah keluarga-keluarga Katolik menggunakan bahan Pendalaman Advent 2016 (tentang Ibadat dalam Keluarga)?

 

Apakah para imam di tempat Anda sudah murah hati dalam melayani umat?

 

Apakah Anda tahu tentang Ajaran Sosial Gereja?

 

Bagaimana  Ajaran Sosial Gereja diperkenalkan pada umat?

 

 

 

  1. Doa Penutup: Doa Pertemuan Pastoral Gereja Partikular III
  2. Lagu Penutup Ziarah” ~ MB. No. 534 – teks bisa diperbanyak di paroki

 

Bahan Pertemuan Minggu Keempat

“MERAJUT SEJARAH – MENGGAPAI IMPIAN”

Pleno Merangkum Pertemuan Lingkungan-Stasi

dan Menyusun Cita-cita Gerak Pastoral Keuskupan

Tujuan Pertemuan

  1. Setiap Stasi/Wilayah menyampaikan hasil pertemuan 1, 2, dan 3 kepada peserta Pra-Perpasgelar di Paroki.
  2. Para Pastor dan beberapa tokoh umat menambahkan bahan masukan, bila memang ada hal baru atau berbeda.
  3. Peserta pertemuan memahami hasil dari 3 kali pertemuan di stasi-stasi/wilayah dengan baik dan merencanakan cita-cita gerak pastoral yang lebih baik di masa mendatang.
  4. Team Perumus di Paroki, yang adalah juga calon peserta Perpasgelar III, merangkum hasil-hasil pertemuan ini bersama para pastor di Paroki secara tertulis.

Langkah-Langkah

  1. Lagu pembuka

“Ya Roh Kudus, Kunjungi Umat-Mu” ~ PS. No. 571

  1. Tanda Salib dan Salam

P            : + Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus

U            : Amin

P            : Semoga rahmat Tuhan Kita Yesus Kristus dalam persekutuan dengan Bapa dan  Roh Kudus, senantiasa beserta kita.

U            : Sekarang dan selama-lamanya.

  1. Pengantar

Saudari-saudara terkasih, sejak minggu pertama masa Prapaskah, umat di stasi-stasi maupun lingkungan (kring) telah mengadakan pertemuan mendalami materi untuk Pertemuan Perpasgelar III berdasar refleksi atas 5 pilar Gereja, yaitu: kerygma (Pewartaan), liturgia (liturgi), diakonia (pelayanan), koinonia (persekutuan) dan martyria (kesaksian).

Dari lima pilar Gereja itu, umat diajak untuk ‘bernostalgia’ – sejauh mana di masa lalu kelima pilar itu dihayati, dihidupi, dialami, dirasakan dalam tiga tonggak sejarah Gereja Keuskupan Tanjung Karang: RKPK 1980, Perpasgelar I dan Perpasgelar II hingga masa sekarang. Dan dalam pertemuan keempat ini, umat akan diajak untuk melihat-rangkum semua proses menggereja kita seraya bersama menemukan “impian” tentang pastoral dan pelayanan yang diharapkan di masa mendatang.

Marilah pertama-tama kita hening dan mengawali pertemuan ini dengan berdoa.

  1. Doa Pembuka

P            : Marilah berdoa

Ya Bapa, di dalam kelemahan dan keterbatasan, kami berhimpun di dalam nama-Mu. Hadirlah di tengah-tengah kami, tinggallah bersama kami dan terangilah hati kami. Berilah kami cahaya dan kekuatan-Mu untuk mampu mengenali kehendak-Mu, untuk menjadikannya kehendak kami. Bimbinglah kami dengan kebijaksanaan-Mu agar kami rela membuka hati untuk sabda-Mu yang tertuang dalam pembicaraan kami umat-Mu di sini dan sekarang ini. Seluruh pertemuan ini kami serahkan kepada-Mu supaya segala sesuatu terjadi atas kehendak-Mu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus Putera-Mu, Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa dalam persatuan dengan Roh Kudus, kini dalam sepanjang masa.

U            : Amin.

  1. Lima Pilar Gereja: Sebuah Pengantar Proses Diskusi dan Perumusan di Tingkat Paroki

Gereja secara universal dipahami sebagai umat Allah (Lumen Gentium, n. 9). Katekismus Gereja Katolik merumuskan Gereja sebagai “himpunan orang-orang yang digerakkan untuk berkumpul oleh Firman Allah, yakni, berhimpun bersama untuk membentuk Umat Allah dan yang diberi santapan dengan Tubuh Kristus, menjadi Tubuh Kristus” (Katekismus Gereja Katolik, n. 777). Himpunan tersebut terdiri dari klerus (tertahbis), awam beriman (terbaptis) dan awam berkaul (tertakdis).

Gereja Katolik Keuskupan Tanjung Karang adalah “bagian dari Umat Allah, yang dipercayakan kepada Uskup untuk digembalakan dalam kerja sama dengan para imam, sedemikian rupa sehingga dengan mengikuti gembalanya dan dihimpun olehnya dengan Injil serta Ekaristi dalam Roh Kudus, membentuk Gereja partikular, di mana sungguh-sungguh terwujud dan berkarya Gereja Kristus yang satu, kudus, Katolik dan apostolik” (Kitab Hukum Kanonik, n. 369).

Keberadaan himpunan Umat Allah yang universal ini diwujudkan secara lokal dalam hidup ber-paroki. Di dalam paroki inilah himpunan Umat Allah mengambil bagian dan terlibat secara nyata dalam menghidupkan peribadatan yang menguduskan (liturgia), mengembangkan pewartaan Kabar Gembira (kerygma), menghadirkan dan membangun persekutuan (koinonia), memajukan karya cinta kasih/pelayanan (diakonia) dan memberi kesaksian sebagai murid-murid Tuhan Yesus Kristus (martyria).

Bila kita cermati, sangat nyata bahwa kehidupan menggereja Jemaat Perdana mengungkapkan lima tugas Gereja. Kita bisa melihat dasar Kitab Suci bagi lima pilar Gereja ini dari Kisah Para Rasul 2:41-47 berikut:

“Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul (kerygma) dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti  dan berdoa (liturgia). Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mukjizat dan tanda. Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu (koinonia), dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya (diakonia) kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang (martyria). Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan”.

  1. Presentasi dan Sharing Hasil Rangkuman Pertemuan Lingkungan/Stasi/Wilayah

Para pemandu di Lingkungan/Stasi/Wilayah memberikan presentasi rangkuman perjalanan persiapan Perpasgelar yang sudah terjadi dalam tiga pekan terakhir.

Team Perumus di tingkat Paroki hendaknya mencatat semua yang dipaparkan dan menyimpan dokumen tertulis hasil pertemuan baik di tingkat lingkungan/stasi maupun wilayah. Dokumen ini nanti akan di-copy lalu dilampirkan bersama hasil pertemuan di Paroki yang akan dikirimkan ke Keuskupan.

  1. Pertanyaan Informatif

Untuk menajamkan paparan refleksi yang sudah dibuat, pemandu dapat membuka termin tanya-jawab dan diskusi. Hasil diskusi ini mohon dicatat pula dalam notulen yang akan dikirimkan ke Keuskupan.

  1. Masukan dari Tokoh Umat dan Romo

Pemandu mempersilahkan tokoh umat dan Romo yang hadir untuk memberi tambahan masukan atas refleksi yang sudah disampaikan.

Pemandu meminta tokoh umat, Romo dan setiap peserta untuk menyampaikan impiannya akan gerak pastoral dalam lima pilar Gereja yang akan dihidupi di masa mendatang.

  1. Doa Penutup: Doa Pertemuan Pastoral Gereja Partikular III
  1. Lagu Penutup: “Ziarah” ~ MB. No. 534 – teks bisa diperbanyak di paroki

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here