Pendahuluan

“Sebagai Uskup yang diserahi tanggungjawab atas “domba-domba Kristus”, khususnya yang berada di Lampung ini, kami menghimbau dan sangat mengharapkan agar komunitas Keuskupan – masing-masing anggota Paroki, Kring, Stasi, terutama para Imam, para religius (Suster, Bruder, Frater) – menyediakan waktu dan tenaga untuk usaha yang penting dan urgen ini” *1). Demikian kalimat penutup dari Surat Gembala perihal “Gerakan Pembaharuan Pastoral (GPP) dari Uskup Tanjungkarang yang disebarkan di seluruh wilayah Keuskupan pada Hari Pentakosta 1989.

Karena GPP itu penting dan urgen, maka perlu dipahami benar “Visi Dasar Pastoral Keuskupan Tanjungkarang”, sehingga himbauan Uskup tersebut dapat ditanggapi semestinya. Visi Dasar Pastoral tersebut dapat ditelusuri lwat 2 (dua) jalur pokok, yang keduanya saling isi mengisi secara dinamis. Dua jalur tersebut ialah :

  1. Bahan tertulis :
  1. Rencana Kerja Pastoral Keuskupan Tanjungkarang 1980
  2. Mempersiapkan Gereja Partikular Masa Kini di Lampung (Makalah yang disampaikan Mgr. A. Henrisoesanta di hadapan para peserta Kapitel SCJ, Juni 1984)
  3. Notulen “Conveniat” yang diadakan dari tahun 1981-1990
  4. Surat Gembala tentang Gerakan Pembaharuan Pastoral (Pentakosta Mei 1989)
  5. Surat Gembala menyongsong Pesta Natal (17 Desember 1989)
  6. Doa untuk Gerakan Pembaharuan Pastoral Keuskupan Tanjungkarang.
  7. Surat Gembala Natal 1990.
  1. Bahan Lisan

Bahan ini meliputi :

  1.  Pertemuan-pertemuan Uskup dengan para Imam (rekoleksi, conveniat)
  2. Pertemuan Uskup dengan Umat, khususnya pada kesempatan kunjungan pastoral ke paroki dan stasi (1982, 1984, 1986 dan 1990)
  3. Komentar-komentar pada kesempatan pertemuan dan beberapa pembicaraan informal.

 

ARAH GEREJA / Keuskupan Tanjungkarang

Pembangunan dan pengembangan umat Katolik di Lampung diarahkan kepada perwujudan Gereja sesuai dengan Gambaran Gereja yang diberikan dalam Dokumen Konsili Vatikan II dan dokumen-dokumen selanjutnya. Gereja adalah Umat Allah (LG 9), bermusafir di dunia (LG 6) dan menjadi hamba melayani Kristus dalam saudara-saudaranya (LG 8) *2).

Gereja bertekad bulat berusaha, agar benar-benar merasa diri bersatu dengan umat manusia dan sejarahnya. Sehingga kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan mereka pada dewasa ini, menjadi kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan murid-murid Kristus (GS 1), termasuk para biarawan-biarawati. Usaha, karya dan hidup Gereja harus ditujukan kepada perwujudan dirinya sebagai Sakramen Cintakasih Kristus, Sakramen Keselamatan*3).

Maka umat diajak berdoa : “Dia (Yesus) bertujuan menjadikan kami sinar wajahMu (Allah Bapa) dan gema panggilan hatiMU. jaDilah garam dan cahaya dunia …. PuteraMu menugaskan kami berusaha menjadikan GerejaMu tanda nyata dan subur, yang menawarkan kebahagiaan bagi umat manusia seluruhnya” *4).

Jadi, tugas yang mendesak ialah menggali dan menemukan arah dan langkah-langkah yang tepat-konkrit bagi Hidup Menjemaat di Lampung ini, sehingga Gereja di Lampung dapat menjadi “Sakramen Keselamatan Kristus” bagi masyarakat di “Sang Bumi Ruwa Jurai” ini. Untuk itu dituntut agar mutu hidup kristiani masing-masing orang Katolik, umat itu sendiri dan para pastor ditingkatkan secara efektif *5).

 

DASAR TEOLOGIS

Gereja hendaknya dibangun sesuai berbagai karisma yang dianugerahkan Tuhan (1Kor 12:4-11 ; Rom 12 :6-8). Namun 5 anugerah khusus (karisma) dalam membangun Geeja, mendapat perhatian dan tekanan khusus bagi Jemaat Lampung, yakni karisma Rasul, Nabi, Pewarta Injil, Gembala (pastor) dan Pengajar (Ef 4:11). Mengapa Gereja harus menjadi Sakramen Keselamatan bagi dunianya? Hal ini erat dengan kesadaran diri Geeja bahwa dari kodratnya dia bersifat misioner. *6) Maka Gereja membuka diri untuk memberi, untuk berbagi (sharing), berkomunikasi, dan berdialog dengan semua orang. *7) Dia di dunia ini mengemban utusan. Pola perutusan itu bersumber pada interaksi yang ada pada Tri Tunggal Mahakudus.

Dari kodratnya Gereja bersifat misioner, karena berasal dari perutusan Putera dan perutusan Roh Kudus, sesuai dengan rencana Allah Bapa. Dari Dia lahirlah Putera, dan dengan perantaraan Putera terbitlah Roh Kudus.

Karena kebaikanNya Ia menciptakan kita, memanggil kita untuk ambil bagian di dalam kehidupan dan kemuliaan. Ia mencurahkan kebaikan ilahiNya dengan limpah untuk membentuk persekutuan antar manusia. Allah memutuskan untuk masuk ke dalam sejarah manusia dengan mengutus PuteraNya *8).

Dari sini terlihat, bahwa Allah adalah misionaris yang pertama dan utama, pelopor kegiatan berbagi (sharing) kemuliaan dan kehidupannya, kebaikan dan sebagainya. Maka oleh Yesus, Dia diwartakan sebagai :”Bapamu di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang jahat dan orang baik, serta menurunkan hujan bagi orang yang benar, maupun yang tidak benar.” *9)

Yesus, Allah Putera, tampil selaku Yang Diutus, puncak kegiatan Allah dalam berkomunikasi dengan bangsa manusia. Pola hidupNya yang menonjol adalah membagikan (sharing) semua yang ada padaNya. *10) Kegiatan perutusanNya terutama terarah pada mutu kehidupan. Mengusahakan agar manusia jadi lebih baik. Amanat perutusanNya adalah : “… supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya secara berkelimpahan.”. *11) Pedoman satu-satunya adalah kebutuhan, perkembangan dan kebahagiaan orang lain  *12).

Dengan kata lain, perhatiannya tercurah pada urusan Kerajaan Allah, yang benihnya sampai kini masih ditabur, dibesarkan, dipelihara dan dikembangkan. *13)

Roh Kudus juga Utusan. *14) Dia adalah kelanjutan dari kegiatan interaksi Bapa dan Putera dalam suasana saling berbagi (sharing). Sekaligus juga pernyataan bahwa Allah tidak mau menutup diri.

Gerja adalah bagian kecil, historis, sakramental dari misteri tadi, yakni misteri pengejawantahan Allah, hidup serta komunikasiNya.

Dia diutus demikian rupa, sehingga setiap insan akan mendengar, melihat dan menyentuh Kristus, yang mengkomunikasikan misteri cintakasih Allah. Dengan demikian Gereja merupakan bagian dari keterbukaan Allah. *15) Dia juga berkaitan erat dengan misteri Kristus, yakni Allah yang terjun masuk ke dalam sejarah manusia, *16) sekaligus juga bertautan dengan misteri Roh Kudus, selaku Allah yang tinggal di antara manusia.

 

DASAR SPIRITUAL PASTORAL

Segenap umat Allah mesti menerima perutusan mewartakan dan menegakkan Kerajaan Kristus *17). Tetapi bicara soal perutusan umat Allah tidak dapat hanya bicara soal tugas-tugas, metode dan sasaran. Yang lebih mendasar justru kesadaran, motivasi, inspirasi, yang melatarbelakanginya. Maka yang harus dilihat justru sumbernya, yakni Roh Kristus. Panggilan menjadi utusan Allah didahului dengan direnggutnya seseorang oleh Roh Kudus, digarap, dibentuk dulu olehNya. Perlu ada perombakan batin terlebih dahulu sebelum diutus. *18)

“Insyaf akan tanggungjawab untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia, Jemaat Muda itu, sehati sejiwa, mewujudkan Gereja serta melaksanakan perutusanNya. Mereka mengalami cintakasih Allah yang menyelamatkan dan merasa didorong untuk membagikan cintakasih tersebut kepada orang lain. *19)

Perutusan Kristus, Gereja dan setiap insan Kristiani bermuara pada satu hal ini : agar orang-orang menjadi sadar akan anugerah Allah dan dengan demikian mereka akan memiliki hidup secara berkelimpahan (Yoh 10:10).

Maka berbicara soal pastoral, selalu harus lebih dahulu bicara soal pembaharuan, pertobatan. Dengan demikian pastoral lantas memberikan pelayanan iman kepada perginya manusia menuju Allah dan datangnya Allah kepada manusia. *20)

Agar pelayanan iman bagi perginya manusia menuju Allah dan datangnya Allah kepada manusia itu berjalan mulus, maka si pelayan sendiri harus lebih dahulu sadar akan kehadiran Allah yang menyelamatkan itu. ia harus mau dan terbuka untuk “menyaksikan, mengamati dengan mata kepala sendiri dan mengalami keselamatan tersebut….. siap untuk dibimbing dan dituntun oleh Allah….berusaha menjadi kecil dan lemah di hadapan Allah, sebagai domba terhadap Gembalanya.” *21)

Secara khusus Allah dialami selaku Gembala (pastor), yang benar-benar menaruh ‘keprihatinan besar’ akan domba-dombaNya *22). Pengalaman ini mendorong Gereja/Umat Allah untuk ikut serta dalam keprihatinan tersebut, dengan jalan mengusahakan terwujudnya kehendak Allah, Sang Gembala Agung, untuk menyelamatkan manusia *23). Inilah karya dan spiritualitas pastoral! Dalam keikutsertaan dengan keprihatinan Allah itu, seluruh jemaat – Awam, Imam, Uskup dan sebagainya berproses menghadirkan keselamatan Allah. *24)

Keselamatan itu berdimensi ganda (multidimensi). Maka bentuk keikutsertaan dalam keprihatinan Allah untuk menyelamatkan manusia itupun bermacam-macam. Disinilah karisma, keahlian, kemampuan dari setiap warga umat Allah justru amat diperlukan.

Apalagi kalau mengingat, bahwa semua karisma, keahlian, kemampuan dan sebagainya itu berasal dari Roh yang sama, yang juga utusan dan sumber segala perutusan. *25)

Baiklah kalau kita berdoa :”Bapa yang maha pengasih, baharuilah sikap kami pribadi dan bersama-sama. Utusalah RohMu menerangi akal budi kami, supaya kami mampu memahami keadaan dan kebutuhan, baik di dalam gereja maupun di luar, khususnya di lingkungan hidup kami. Tunjukkanlah kepada kami desakan mana, yang patut kami perhatikan dulu. Anugerahilah kami kekuatan guna menangani tahap-tahap perkembangan dan penyempurnaan diri, keluarga, paroki, stasi, kring, biara, sekolah, sampai kelompok-kelompok dan masyarakat luas; gairahkanlah kemauan kami agar selalu siap sedia merelakan hati, waktu, tenaga untuk bertindak sebagai alatMu…” *26)

 

DASAR PRAKSIS PASTORAL

 

  1. Segi Sosiologis

Umat beriman di Lampung ini terdiri dari aneka ragam suku, bahasa, budaya, ekonomi dan kemampuan intelektual. Tempat tinggalnya pun bermacam-macam : di kota, desa, dan translok.

 

  1. Idiologi dan Politik
  • Tampak adanya perubahan dan perkembangan tata nilai hidup, misal : Materialistis, hedonistis dan konsumeristis.
  • Masalah penghayatan iman dalam kaitan hidup berbangsa, bernegara dan bermasyarakat dari umat katolik di tengah-tengah masyarakat yang berbeda agama, adat dan kebudayaan, yang secara cepat dalam perubahan dan perkembangan.
  • Secara politis : umat Katolik ada yang masuk PDI dan Golkar

Dalam situasi yang demikian timbullah persoalan : bagaimana dengan panggilan terang, garam dan ragi dunia? Apakah secara simbolik dapat dikatakan kita akan lebih berfungsi sebagai garam dan ragi?

Hal ini mengingat saudara-saudara Islam secara idiologis maupun politis tampak semakin sigap, agresif, rapih dan terlatih dalam berbagai pikiran dan kegiatan.

Sampai akhir tahun 1988 telah diusahakan membangun Tubuh Kristus (Gereja) dengan anugerah Gembala (pastor), yakni menjaga, mendampingi serta menghantar umat yang sudah terbentuk.

Apakah kini tidak seharusnya membangunNya juga dengan karisma Pewarta Injil (Ef 4 :11)? *27)

Meskipun kegiatan kegembalaan tetap merupakan dasariah dalam membangun Gereja, namun pengembangan karisma Pewarta Injil kiranya suatu kebutuhan mendesak dewasa ini. Selain iman kita diperkuat bila diwartakan kepada orang lain (Redemptoris Missio no 2) ; “seraya Gereja mewartakan Kerajaan Allah dan membangunnya, Gereja membangun dirinya di tengah-tengah dunia sebagai tanda dan alat Kerajaan ini yang sudah ada dan yang akan datang.” (Evangelii Nuntiandi no 59)

 

  1. Intern Gerejani
  • Di keuskupan ini muncul imam-imam dan calon imam (diocesan) yang memiliki kekhususan sendiri. Kelak mereka bersama imam biarawan, akan merupakan suatu Presbyterium di Keuskupan ini. Maka perlu diusahakan iklim, diciptakan suasana dalam mana mereka dapat hidup dan bekerjasama mewujudkan Gereja sebagai Sakramen Keselamatan. *28)
  • Semakin disadari bahwa Pengetahuan Agama di kalangan umat, terutama pada angkatan mudanya, dangkal. Mental kebanyakan umat pun introvert, kurang memasyarakat dan kurang misioner.
  • Di paroki-paroki belum ada yang benar-benar mandiri dalam hal tenaga, dana dan sarana.

 

Nomor 1, 2, 3 tersebut hanyalah sebagian dari data yang harus dihadapi, yang turut mepertajam urgensi dalam ‘menggali dan menemukan langkah-langkah konkrit dan tepat sehingga arah hidup menjemaat kita di Lampung ini’ *29) sungguh-sungguh sampai ke tujuan : “SANG GEMBALA AGUNG” (Mz 23; Yoh. 10:1-21)

 

 

Keterangan :

  1. Surat Gembala tentang GPP, Pentakosta 1989
  2. 1 Kor 9 : 19 – 23. Makalah pada Kapitel SCJ, hal. 5. Realisasinya dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan situasi dan kondisi jemaat serta masyarakat. RKPK 1980 ingin meningkatkan kesadaran umat beriman bahwa merekalah Gereja itu. mereka itu “Umat Allah” (RKPK, hal 12).
  3. Ibidem. Dalam Conveniat tanggal 10 Juli 1981 para Pastor, Suster dan tokoh-tokoh awam dari pelbagai paroki setelah berdiskusi menghasilkan beberapa kesimpulan (menanggapi 2 pertanyaan : Menurut anda gambaran Gereja itu bagaimana? Dalam Gereja yang anda harapkan /inginkan, pelayanan apakah, oleh siapakah harus dilaksanakan, dipersiapkan dan dikembangkan?) “Gambaran Gereja ialah umat Allah suatu keluarga besar, namun hidup berkelompok kecil (berdikari, hayati iman) bersatu sebagai umat beriman, mengembangkan bersama-sama kesatuan tersebut (hirarki dan awam), terbuka bagi dunia, dinamis, saling bahu memabahu, bergerak bersama-sama sesuai fungsi dan bakatnya masing-masing anggota/kelompok dan menyelamatkan dunia.
  4. Doa GPP hal 2 alenia 2.
  5. Cfr. Surat Gembala GPP 18989 hal 5 ; Notulen Conveniat 2 Pebruari 1981, tentang Peranan Dewan Paroki, usaha dan sarananya untuk memabgnun persatuan antara stasi Pusat dan Daerah.
  6. Ad Gentes no 2, RKPK 1980, bab III hal 6 – 7.
  7. “Waktu itu Gereja adalah kelompok kecil, Rasul yang malu, takut, tertutup….merasa didorong membagikan cintakasih…..” (Surat Gembala GPP 1989, hal 1 – 2). Seorang Misionaris Agung menulis : “Karena jjika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1 Kor 9 : 16).
  8. Ad Gentes 2 – 3; Doa GPP hal 1.
  9. Mateus 5 : 45
  10. Surat Gembala GPP 1989, hal 3
  11. Yoh 10 : 10
  12. Surat Gembala GPP hal 3.
  13. Makalah pada Kapitel SCJ, hal 1 alenia 2
  14. Surat Gembala GPP 1989, hal 1.
  15. Surat Gembala GPP 1989, hal 2; Doa GPP, hal 1 dan hal 4.
  16. Ad Gentes 3
  17. Makalah pada Kapitel SCJ, Juni 1984 hal 2; Surat Gembala GPP 1989, hal 2 di bawah.
  18. Surat Gembala GPP 1989, hal 1; Doa GPP, hal 3 di bawah.
  19. Surat Gembala gpp 1989, hal 2 alenia 3
  20. Surat Gembala GPP 1989 hal 6 alenia 2
  21. Surat Gembala Natal 17 Desember 1989
  22. Surat Gembala GPP 1989 hal 3 alenia 1
  23. Ibidem
  24. Ibidem
  25. Makalah Uskup pada Kapitel SCJ, Juni 1984 hal 5 – 6 (1 Kor 12 : 4 – 11)
  26. Doa GPP hal 3 bawah dan hal 4 alenia 1.
  27. Dalam rangka “mempersiapkan” jemaat memasuki tahap pembangunan hidup menjemaat “secara baru” itu, diadakan “Gerakan Pembaharuan Pastoral” (Des 1989 – 1991) Surat Gembala Natal 1990
  28. Makalah pada Kapitel SCJ, Juni 1984, hal 9 (rangkuman)
  29. Cfr. Surat Gembala GPP 1989, hal 5.

 

SHARE
Next articleKuria Keuskupan Tanjungkarang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here