Pada hari ini, Jumat 19 Juli 2013, pukul 17.00 WIB (12.00 Waktu Roma) telah dipilih dan diumumkan Uskup Baru untuk Keuskupan Tanjungkarang oleh Paus Fransiskus, yakni Pastor YOHANES HARUN YUWONO. Beliau adalah seorang pastor diosesan Keuskupan Pangkal Pinang yang berasal dari Totoharjo, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran dari Paroki Katedral Tanjungkarang. Lahir di Way Ratay, 14 Juli 1964 dan ditahbiskan menjadi imam di Paroki St. Yusuf Pringsewu, pada tanggal 8 Desember 1992. Pada saat ini beliau masih menjabat sebagai Rektor Seminari Tinggi Santo Petrus Pematangsiantar – Sumatera Utara. Proficiat Romo Yuwono!

Vatican City, 19 July 2013 (VIS) – Today, the Holy Father:

– appointed Fr. Yohanes Harun Yuwono of the clergy of Pangkalpinang as bishop of Tanjungkarang (area 35,288, population 7,489,000, Catholics 72,797, priests 53, religious 239), Indonesia. The bishop-elect was born in Way Ray, Indonesia, in 1964 and was ordained a priest in 1992. He has a licentiate in Islamology from the Pontifical Institute of Arab and Islamic Studies, Rome, and has served in a number of pastoral roles including parish vicar in Sungaliat, chairman of the diocesan pastoral secretariat in Pangkalpinang, and currently rector at the Interdiocesan Major Seminary of Pematangsiantar, and teacher of Islamic studies at the St Yohanes Institute of Philosophy and Theology in Pematangsiantar.

ANAK PETANI YANG JADI GEMBALA

Yohanes Yuwono, hadir di kehidupan dunia dalam keluarga sederhana dari Jawa yang sudah merantau ke Lampung pada tahun 60-an. Bapaknya, Marsellus Margono (alm) dan ibunya, Maria Napsiyah (71 th) menikah tahun yang sama dengan kepindahan ke Lampung namun kemudian diperbaharui dalam Gereja Katolik pada tahun 1962 di Gereja Babadan, Jawa. “Bapaknya Yu itu kerja di kebun. Menggarap kebun. Dulu pernah kerja sebagai buruh di perkebunan karet. Lalu juga mengolah kebun sendiri, kopi dan tanaman lain,” Kisah Napsiyah mengenang masa lalu saat ditemui di kediamannya di Totoharjo, Padang Cermin.

Napsiyah lahir pada 10 Nopember 1942 di Saren, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta. Lokasinya di lereng Gunung Merapi. Datang ke Lampung dengan harapan besar untuk kesejahteraan dengan pernikahannya. “Waktu itu ada sedikit kendala untuk menikah secara Katolik di Pringsewu. Jadi kami menikah dulu di luar Gereja. Tapi kemudian kami kembali ke Jawa sekitar 6 bulan untuk menyiapkan perkawinan secara Katolik dan syukurlah kami dapat menikah di dalam Gereja. Usai itu kami kembali lagi ke Lampung,” ujar Napsiyah.

Mengingat kelahiran putra keduanya itu, Napsiyah mengisahkan bahwa Yu lahir dalam situasi sangat sederhana. Yu lahir di rumah dibantu oleh dukun bayi yang datang ke rumah dan ditemani oleh bapaknya. “Tidak ada bidan atau dokter. Lahir di rumah saja. Bayi waktu itu juga tidak biasa ditimbang dan diukur. Jadi tidak tahu berapa berat dan panjang badannya. Memotong tali pusarnya saja dengan welat, bambu yang ditipiskan hingga tajam. Tidak ada obat-obat yang dipakai kecuali cara tradisional. Dan jangan tanya foto. Jaman itu foto yang dipakai untuk peristiwa besar dan khusus. Tidak ada foto masa kecilnya. Foto bapaknya saja juga tidak bisa ditemukan,” jelas Napsiyah.

Rumah dimana bayi Yu dilahirkan sudah dipugar menjadi rumah yang sekarang ini ditempati oleh ibu Yu. Bergeser beberapa jarak, tidak di tempat yang sama. Sedang rumah yang lama sudah tidak ada lagi. Beberapa dokumen juga hilang karena pindah ke rumah baru ini sehingga keluarga tidak banyak menemukan foto atau arsip lain tentang Yu saat masih kecil. Yohanes Yuwono lahir pada 14 Juli 1964 dan dibaptis pada 26 Desember 1965 di Gereja Pringsewu.  “Waktu itu umat Katolik sangat sedikit. Kami harus ke Pringsewu jika ingin ke Gereja. Jalanan masih sulit, mesti jalan kaki bisa dua jam perjalanan. Waktu mau dibaptis Yu masih digendong. Kakaknya, Yuliana Sundarsih, sudah kuat berjalan. Tapi Yu belum kuat jalan jauh, baru setahun lebih sedikit umurnya,” lanjut Napsiyah.

Yu merupakan anak kedua dari 8 bersaudara. Anak pertama Yuliana Sundarsih, lahir pada tahun 1961. Kedua, Yohanes Yuwono. Ketiga, meninggal saat masih berusia 9 hari, namanya Petrus Yuhardono. Keempat, Sisilia Mintarsih. Kelima, Stanislaus Nuryadi. Keenam, Bernadeta Sriningsih, sekarang tinggal di Garut. Ketujuh, Antonius Gunawan. Dan kedelapan, Yulius Yulianto. Napsiyah mengatakan sekarang sudah mempunyai 14 cucu dan 1 cicit. Sudah menjadi keluarga besar. “Yu ini paling dekat dengan kakak perempuannya. Dulu masih kecil, kemana-mana ya mereka berdua. Sekolah, pulang sekolah, mereka bersama. Main bersama dan bekerja bersama. Mereka biasa jalan berdua ke kampung-kampung jualan kelapa atau hasil kebun lain,” jelas Napsiah.

Kedewasaannya sudah terlihat mulai dari kanak-kanak. Saat bapaknya akan meninggal tahun 1979, saat itu Yu sekolah di SMP Xaverius di Kotabumi dan tinggal di asrama. Bapaknya minta ditemani oleh Yu dan dikeloni oleh Yu. Ketika bapaknya meninggal, Yu sembahyang dengan serius. “Dia berbeda dari anak-anak lain. Tidak merasa takut saat bapak meninggal. Dia memberi perhatian dan berdoa. Padahal umurnya saat itu masih sangat muda, masih SMP. Tapi sudah kelihatan dewasa dan mengerti.” Tandas Napsiah.

Yu dikenal dalam keluarganya sebagai anak yang tidak nakal, tidak neko-neko dan nurut pada orang tua. “Dia tidak pernah minta yang aneh-aneh, atau rewel. Dia ini anak pendiam dan baik. Tidak pernah dia ngusili saudaranya atau nakal kepada adik-adiknya. Bahkan, karena dia ini pendiam saudara-saudaranya jadi segan dan hormat padanya,” tutur Napsiah.

Sikap “nrimo”nya ini terlihat dalam banyak hal. Misalnya saat sudah di seminari, waktu liburan pulang ke rumah saat musim kemarau sehingga kebun tidak bisa diandalkan. Untuk makan saja keluarga ini kesulitan. Dua ekor ayam pun dijual untuk sangu Yu kembali ke Palembang. “Uang lima ribu itulah sangunya. Oleh kakaknya yang sudah bekerja di Tanjungkarang, ditambah lagi beberapa ribu. Yu tidak protes juga tidak meminta lebih walau tahu uang itu sangat sedikit dan tidak cukup untuk uang saku beberapa bulan,” kisah Napsiyah.

Saat itu memang situasi keluarga sulit. Kepala keluarga mesti dipegang sendiri oleh Napsiyah setelah suaminya meninggal. Hasil kebun kopi sangat sedikit dan dapat dipanen hanya setahun sekali. Hasil kebun lain seperti pisang tidak laku. Beruntung bapaknya menyimpan kayu yang sebenarnya akan dipakai untuk memperbaiki rumah. Kayu-kayu itu menjadi harta yang sangat berguna bagi kelangsungan hidup keluarga ini.

Jika pulang saat liburan, Yu seperti orang-orang lain pada umumnya. Dia ikut terlibat dalam gotong royong desa, ikut membawa kayu, memanggul kopi hasil panen, membabat belukar dan sebagainya. Bahkan dengan haru Napsiyah bercerita kalau sering kali dulu saat pulang dari asrama, Yu pergi ke sungai dengan seluruh pakaian kotor yang ada di rumah. “Dia mencuci semua baju kotor milik ibu dan saudara-saudaranya. Tahu-tahu sudah bersih tinggal dijemur.”

Yu sangat rajin dalam semua pekerjaan yang dilakukan. Sikap ini juga yang pernah membuatnya dirayu oleh seorang tokoh desa untuk dimasukkan sekolah polisi. Tokoh ini yang akan membantu dan tidak perlu membayar apapun andai Yu mau masuk jadi polisi. Tapi rupanya jalan itu sama sekali tidak mengusik Yu, bahkan seorang saudaranya samar-samar ingat kalau dulu Yu pernah juga mau masuk STM tapi Yu rupanya lebih kuat untuk berjalan ke seminari.

Nama Harun ditambahkan oleh Yu sendiri saat tahbisan diakon tahun 1992. Katanya pada kakaknya, nama Harun itu dipilih karena dia berasal dari Lampung dan nama Harun adalah nama supaya bisa diterima oleh orang Lampung dan mengingatkannya pada Lampung. Menurutnya nama Harun biasa dipakai oleh orang Lampung. Namun di lain kesempatan dikatakan juga bahwa nama Harun diambil Perjanjian Lama untuk mengingatkan diri akan kelemahan manusiawi agar sebagai imam nantinya tidak jatuh seperti Imam Harun dalam Kitab itu. Setelah itu namanya biasa ditulis Yohanes Harun Yuwono.

Saat ditahbiskan menjadi imam, seluruh keluarga merasakan syukur. Mereka mengaku tidak banyak tahu bagaimana perjalanan Yu, jatuh bangunnya dan caranya mengatasi semua kendala. Tapi mereka sangat bersyukur ketika hadir dalam acara pentahbisan di Pringsewu. “Kami hadir dengan haru dan gembira. Sepertinya kami keluarga yang paling sederhana yang hadir saat itu. Ada banyak romo yang juga ditahbiskan pada saat yang sama. Mungkin 9 orang. Sangat banyak. Dan seluruh keluarga dari para romo yang ditahbiskan itu pun ikut hadir,” kenang Napsiyah.

Tidak banyak cerita juga tentang perjalanan setelahnya. Menurut Napsiyah, Yu selain jarang pulang juga sangat hemat kata. Kakak dan adik-adiknya hampir sudah hafal apa yang akan dikatakan oleh Yu kalau menelpon. “Pertanyaannya tidak pernah berubah setiap kali menelpon : “Kamu dimana? Sehat? Salam untuk keluarga.” Sudah. Hanya begitu. Tidak pernah panjang lebar bercerita tentang dirinya sendiri. Kalau keluarga yang telepon ngucapin sesuatu ya paling dijawab dengan terimakasih.” Sikap ini sangat dimengerti oleh ibu dan saudara-saudaranya. Beberapa kali Yu mengatakan dengan jelas “Saya bekerja bukan untuk keluarga tapi untuk menjadi pelayan umat. Untuk orang banyak.”

Ketika kabar didapat keluarga ini bahwa Yu akan menjadi Uskup Keuskupan Tanjungkarang, Napsiah sangat terkejut. Bahkan berbagai perasaan dan pikiran itu membuatnya tidak bisa tidur beberapa malam. “Tiga hari saya tidak bisa tidur. Saya tidak pernah menyangka bahwa anak saya ada yang dipilih Tuhan untuk menjadi Uskup. Tidak pernah kepikiran seperti itu sehingga rasanya tidak percaya. Antara bangga dan kuatir bercampur jadi satu. Bangga karena menjadi Uskup pasti pilihan dari Tuhan, dan dari keluarga kami yang sederhana ini sudah dipilih. Namun juga kuatir, apakah Yu nanti bisa mengemban tugas ini,” ungkap Napsiyah.

Ketidak percayaan itu kemudian dibalut oleh harapan dan kegembiraan orang-orang yang datang ke rumahnya. Selain doa-doa yang selalu digemakan Napsiah berharap Yu sebagai Uskup baru dapat menyatu dengan para romo yang lain, bekerjasama dengan mereka. Selain itu juga Napsiah berharap sebagai Uskup, Yu dapat menyatu dengan umat menjadi pemimpin yang bijak khususnya dengan memberi perhatian pada orang-orang miskin.

Kegembiraan itu juga diikuti oleh sambutan hangat dari masyarakat sekitar rumah entah yang Katolik maupun yang bukan Katolik. Semuanya menyambut baik terpilihnya Yu menjadi Uskup Tanjungkarang. ***(dyn)

Pertemuan Uskup Terpilih dengan para Imam dan Biarawan-biarawti

Selasa, 01 Oktober 2013 pukul 16.15 sd 18.30 WIB di Wisma Albertus Pahoman Bandar Lampung berlangsung pertemuan para imam, frater, bruder dan suster dengan Uskup Terpilih Tanjungkarang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono. Beliau akan ditahbiskan menjadi Uskup Tanjungkarang pada hari Kamis, 10 Oktober 2013. Dalam sharingnya, Mgr Yuwono menceritakan perjalanan panggilan imamat dari desa kecil Toto Harjo di Way Ratai sampai dipilihnya beliau menjadi Uskup Tanjungkarang. Beliau mengisahkan perjalanan hidup keluarga dan dirinya yang mengharukan. Pengalaman hidup masa kecil dan kesadaran akan kelemahan dirinya mengilhami MOTTO Tahbisan Uskup yang beliau pilih, yakni “Non Est Personarum Acceptor Deus” (Tuhan tidak membeda-bedakan orang). Karena kesadaran akan kelemahan itulah, beliau dengan rendah hati menekankan ingin BERJALAN BERSAMA umat dalam menjalankan tugas kegembalaannya. Disamping itu, karena beliau merasa tidak punya apa-apa (gelar) kecuali dirinya sendiri, maka apa yang bisa beliau perbuat adalah MENDENGARKAN.

Untuk menunjang itu semuanya beliau rela membuka pintu 24 jam sehari. Mudah-mudahan dengan mendengar dan berjalan bersama (sambil berdiskusi) menjadi tahu apa yang harus dikerjakan dalam penggembalaannya. Atau dkl. Visi dan Misi penggembalaannya sedikit demi sedikit akan menjadi jelas nantinya. Dalam pertemuan tadi sore itu, banyak diantara romo dan suster yang mengungkapkan harapan mereka pada Mgr Yuwono, atau hanya sekedar sharing kegembiraan karena hanya setahun menunggu terpilihnya Uskup baru Tanjungkarang. Semoga semuanya diberkati Tuhan.*** ThS.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here