Gua Maria Pajar Mataram

Pada waktu itu, umat Katolik Pajar Mataram termasuk umat yang masih muda. Sebagian besar berasal dari lereng Gunung Merapi, Jawa Tengah. Tingkat hidup mereka masih sangat sederhana. Sebagian besar dari mereka terdiri dari para petani yang mesti bekerja keras guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Beberapa dari mereka datang dari Muntilan, Jawa Tengah. Seperti halnya umat di Jawa Tengah pada umumnya, sebelum pindah ke Pajar Mataram orang-orang ini sering mengadakan ziarah ke Sendangsono untuk menghaturkan penghormatan khusus kepada Maria. Mereka menyampaikan permohonan atau mengucap syukur atas karunia Allah yang telah mereka terima lewat  Maria. Suatu tradisi beriman yang bersahabat akrab dalam sanubari mereka. Namun seiring dengan perkembangan zaman, orang-orang yang kini berada di pajar Mataram ini tidak dapat lagi mengadakan ziarah secara rutin ke Sendangsono, karena faktor jarak tempuh yang semakin jauh dan beraneka ragam alasan lainnya. Namun kenangan, devosi dan kebiasaan yang telah tertanam di ahti mereka tidak pudar.

Pada suatu hari, Pak Sejomursito mengungkapkan kerinduannya akan Sendangsono yang keramat dan menyejukkan hati itu juga ada di pajar Mataram. Andaikan di Pajar Mataram juga ada tempat ziarah seperti di Jawa, alangkah senangnya. Ia dapat melepaskan rindunya dan pasti akan ada banyak orang yang datang untuk berdoa di sana. Namun Pak Sejomursito sadar akan keadaan ekonomi yang kinim di Pajar Mataram. Untuk membangun tempat yang seperti ia maksudkan membutuhkan banyak biaya. Dan juga ia tidak tahu biaya itu dapat dicari dengan cara apa. Impian itu ia simpan saja dalam hati.

Pada suatu hari, Pak Hadi, seorang katekis yang bertugas di Pajar Mataram, mengungkapkan pikiran yang serupa dengan keinginan Pak Sejomursito, yaitu membangun tempat sejarah untuk menghormati Bunda Maria. Bapak Hadi rupanya juga sedang rindu akan devosi kepada Maria seperti yang pernah ia jalankan sebelumnya. Kerinduan iman Sejomursito dan Hadi segera sampai kepada umat Katolik yang ada di pajar Mataram. Umat menyambut gembira kerinduan hati kedua tokoh tersebut. Mulailah terjadi pembicaraan-pembicaraan yang serius antar umat yang intinya ingin membuat tempat ziarah untuk menghormati Bunda Maria. Tempat ziarah yang serupa dengan Sendangsono.

Pada tahun 1966 umat menyampaikan gagasan mereka kepada pastor stasi, yaitu Pastor Hans Sondermeijer, SCJ. Namun ia belum menjawabnya secara serius. Ia menganjurkan agar umat merencanakan secara matang pembangunan  gua itu. “Kita menyadari bahwa umat memang sering mempunyai rencana atau cita-cita, tetapi biasanya mereka cepat lupa,” kata Pastor Sondermeijer waktu itu. Lantas ia menganjurkan agar umat perlu terlebih dahulu menabung untuk biaya pembangunan gua.

Lama setelah itu tidak terjadi apa-apa. Namun hasrat umat belum padam juga. Tiga tahun kemudian, yaitu sekitar tahun 1969, umat membicarakan kembali maksud hati mereka kepada pastor. Dan sejak saat itu sungguh-sungguh dimulai rencana untuk membangun Gua Maria. Modal pertama yang mereka peroleh adalah 12 ekor kambing pemberian Mgr. Henrisoesanta. Kambing-kambing itu adalah hadiah dari umat kepada Bapak Uskup pada waktu pemberkatan Gereja Pajar Mataram. Ke-12 ekor kambing itu melambang 12 kring yang ada di Pajar Mataram pada awal terbentuknya Gereja di tempat ini. Hadiah-hadiah berupa kambing itu dikembalikan Bapak Uskup kepada umat untuk dijadikan modal pembangunan gua. Umat semakin bersemangat mengumpulkan dana demi segera terlaksana pembangunan gua. Pastor Sondermeijer tetap menyemangati umat dalam mengumpulkan dana. (Diambil dari Buku “Menimba Rahmat dari Gua Maria Pajar Mataram” – hal 2-4)

 

Gua Maria Padangbulan

Sekilas sejarah Gereja Katolik

1924 SCJ masuk Sumatera Selatan. 1925 SCJ (P. v. Oort) masuk Lampung, membeli tanah. 1928, 16 Desember P. v. Oort SCJ., menetap di Lampung. Dari data ini ditetapkan mulainya MISI di Lampung. 1942, 20 Pebruari Jepang masuk ke Lampung. Situasi Gereja ‘kacau’. 1946 Seorang pastor dari Jawa membantu pelayanan iman di Lampung, ialah P. J. Wahyosudibyo, OFM. Satu bulan. 1947 P. JOH Padmoseputra, Pr., dari Keuskupan Semarang diperbantukan untuk melayani umat di Lampung. 1948 Ia mendirikan SMK, Sekolah Menengah Katolik di Pringsewu, Lampung Selatan. Seminaris ‘dititipkan’ pada SMK tersebut. 1948 Desember. Agresi Belanda masuk ke Yogya. Serangan umum 1 Maret. 1949 awal, mulai masuk ke Pringsewu. Tak bisa lewat ‘jalan biasa’ sebab jembatan Bulukerto dirusak oleh gerilyawan kita. Tak kalah akal, Belanda lewat Klaten, tembus ke Bumiayu masuk ke Padangbulan (jam 15.00, waktu gerimis)

Gereja berjuang bersama rakyat

Seperti ketika merebut kemerdekaan (1945), Gereja bahu membahu dengan sesama bangsa dan warga Negara Indonesia berjuang merebut kemerdekaan. Demikian juga pada agresi Belanda II ini, Gereja bersama rakyat setempat berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Gereja waktu itu : imam, calon imam (seminaris), suster dan calon-calon suster, murid-murid SMK, anak-anak remaja, juga kaum awam (antara lain : keluarga Sancoyo Sasraningrat). Mereka mendekatkan diri pada tentara dan rakyat yang berjuang agar lebih efektif – nyata dalam perjuangannya. Tak mau kolusi dengan penjajah. Padang bulan adalah tempat – tempat untuk itu, sebab di seberang sungai kecil itu gerilyawan kita beroperasi.

Gereja dapat membantu : Membina semangat kesatuan dan menolong apa saja yang dapat diberikan antara lain pengobatan (ada klinik di sana). Meneruskan pendidikan/pengajaran meski dalam keadaan sulit. Pembinaan iman yang dihadapkan dengan tantangan real.

Hidup dengan rakyat dalam suka dan duka

Berintegrasi dalam segala persoalan mereka. Dalam solidaritas, saling memberikan informasi demi keamanan bersama. Misalnya ada berita Belanda akan menangkapi semua pemuda. Kami lari mencari tempat sementara yang lebih aman menyatu dengan rakyat.

Di Gunung Padangbulan) air menjadi suatu kebutuhan yang tak mudah didapat. Namun ada sumur, dipergunakan bersama. Itu menjadi sumber hidup bersama, dipelihara bersama. Orang harus sabar menanti giliran.

Untuk hidup rohani, hidup iman, diadakan Misa Kudus di rumah Bapak Prawiro (sekarang tak ada, di belakang, dekat Wisma La Verna). Di sana pula sejauh situasi memungkinkan diadakan pembinaan rohani.

Menjadi tempat ziarah

Umat Katolik sadar bahwa masih ada penjajah ‘baru’ yang lebih hebat dan kejam. Sangat sulit dikalahkan. Beroperasi dimana-mana tanpa lelah dan sangat licik. Sasarannya adalah manusia-manusia yang sedang berziarah kepada Tuhan. Musuh dan penjajah baru bagi manusia tersebut adalah DOSA/KEJAHATAN! Sering diidentikkan dengan SETAN.

Untuk berjuang melawan MUSUH kaliber besar ini yang bagaikan ‘singa yang terus mengaum-aum’, diperlukan sarana canggih juga. Tak cukup kekuatan manusia, melainkan perlu ditunjang dengan kekuatan ALLAH yakni kekuatan IMAN.

Iman ini perlu terus menerus diperdalam, disegarkan dan diperkuat sehingga mampu hadapi serangan musuh baru dan bisa membangun sejahtera sejati. Maka :

Dibangun Rumah Retret La Verna. Tempat untuk membina iman semua orang yang dlaam perjalanan menuju Allah yang memanggil.

Dipelihara dan dilestarikan : SUMBER AIR yang ada. Dijadikan sumber hidup baru yang memberikan daya dorong untuk hidup bersama dan berjuang bersama melawan kejahatan.

Khusus bagi umat Katolik, dibangun Gua Maria karena yakin dan sadar bahwa perjalanan memperoleh hidup sejati, hidup kekal, peran Maria sangat besar. Bersama Putranya Yesus Kristus, penyelamat kita itu, Maria siap membantu dan mengantarkan doa-doa kita kepada Tuhan.

Padangbulan = Terang Bulan

Mendapat makna baru dan berperan bagi masing-masing manusia dalam memberikan CAHAYA, agar dalam perjalanan hidup tidak sesat. Bahkan memperoleh SANG CAHAYA sendiri yakni Kristus Penebus Dosa Manusia. *** (Mgr. A. Henrisoesanta)

Gua Maria Ngison Nando

Alamat:

RR Ngison Nando

Jl. Soekarno-Hatta – Samping Kodim

Kalianda – Lampung Selatan 35513

GUA MARIA BUNDA KERAHIMAN

Sekincau adalah sebuah kecamatan yang berada di kawasan Lampung Barat yang beribukota di Kabupaten Liwa. Tempat yang paling dingin di wilayah tersebut. Di sana terdapat Biara Klaris Kapusines yang berasal dari G. Sitoli (Nias). Setelah sekian lama menetap dan bertapa (hidup dalam doa dan bertani) kebutuhan akan Jalan Salib (Via Dolorasa) sangat dibutuhkan sebagai sarana untuk mengungkapkan dan mewujudkan devosi para para “rubiah” (pertapa putrid) terhadap akhir perjalanan Tuhan Yesus Kristus menuju Salib Kalvari. Maka dari itu sekelompok umat dari Bandar Lampung yang dimotori oleh Bp. Lunto Hasan dkk. mewujudkan Jalan Salib itu. Jalan Salib ini tidak akan dibangun didalam Biara Klaris melainkan di luar kompleks biara, tepatnya di tengah-tengah kebun kopi garapan mereka. Ini semua diharapkan supaya banyak Umat Beriman (Katolik khususnya) sekitar Stasi Sekincau (Unit Pastoral Liwa, Paroki Baradatu dan Paroki Kotabumi) dapat juga berziarah dan berdoa di sana. Awal pembicaraan panitia ketika merencanakan pembangunan Jalan Salib itu terpikir oleh kelompok ini bagaimana kalau di ujung Jalan Salib dibangun Gua Maria. Sehingga para rubiah dan banyak umat beriman dapat bersama-sama berdoa Jalan Salib sekaligus bisa mengungkapkan devosi kepada Bunda Maria. Dari sinilah, dengan restu Mgr. Yohanes Harun Yuwono yang sekaligus bersedia meletakkan batu pertama di area kebun kopi itu, pekerjaan pembangunan dimulai.

Pembangunan berjalan sebagaimana yang diharapkan. Panitia mengumpulkan dana dan mulai sedikit demi sedikit mewujudkan rencana pembangunan Jalan Salib dan Gua Maria itu. Memang tidak gencar atau ingin cepat-cepat selesai tapi tergantung seadanya dana yang terkumpul. Bapak Pius dari Bandung membantu pembuatan patung-patung untuk Jalan Salib dan Gua Maria ini. Setelah beberapa waktu dan walau belum selesai dalam rangka Tahun Yubelium Kerahiman Mgr Yoh. Harun Yuwono menetapkan bahwa Jalan Salib dan Gua Maria ini menjadi salah satu tempat ziarah Maria di samping Gua Maria yang lain (GM Pajar Mataram, GM Padang Bulan dan GM Ngison Nando). Dengan demikian tidak bisa tidak Gua Maria Sekincau ini harus cepat selesai. Dengan sekuat tenaga Panitia Pembangunan menyelesaikan pekerjaan ini. Akhirnya pada tanggal 31 Mei 2016 tepat pada hari penutupan Bulan Maria, peringatan Bunda Maria Ratu, Jalan Salib dan Gua Maria Sekincau di berkati oleh Mgr. Yohanes Harun Yuwono dengan memberi nama tempat ini: JALAN SALIB DAN GUA MARIA BUNDA KERAHIMAN. Nama ini ditetapkan utnuk memperingati Tahun Yubelium Kerahiman yang ditetapkan oleh Paus Fransiskus. Tentu juga tidak sekedar peringatan tetapi diharapkan setiap umat beriman yang datang berziarah dan berdoa di tempat ini sungguh ingat akan kerahiman ilahi melalui Bunda Maria Bunda Kerahiman dan berharap serta menerima kerahiman ilahi tersebut melalui Sakramen Rekonsiliasi (Tobat).

Tempat Jalan Salib dan Gua Maria berdekatan dengan Biara Klaris. Para rubiah yang membutuhkan suasana tenang untuk dapat berdoa dan menyerahkan hidup mereka sebagaimana dicontohkan oleh Santa Klara. Maka dari itu tentu saja kehadiran umat beriman yang berziarah di sini diharapkan untuk bersama-sama menjaga ketenangan. Udara dan kawasan Sekincau yang damai, sejuk dan masih asri dapat menolong kita berdoa secara khusuk. Dan kiranya hanya doa, pujian dan syukur kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria yang kita panjatkan … bukan yang lain. Hal ini diingatkan karena sangat mungkinlah kita lupa bahwa tempat ini tempat perziarahan dan bukan tempat wisata walau seringkali ditambahi dengan embel-embel “rohani” (Wisata Rohani).

Selamat berziarah!

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here